SMKN 3 Pekanbaru Jadi Pusat Belajar Bidang Perhotelan untuk 20 Guru dari 9 Provinsi

Peserta merupakan guru-guru SMK Bidang Perhotelan dari luar Riau. Seperti dari Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Lampung, Bali, Sulawesi Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Utara. 

SMKN 3 Pekanbaru Jadi Pusat Belajar Bidang Perhotelan untuk 20 Guru dari 9 Provinsi
Suasana pembukaan program upskilling dan reskilling Bidang Perhotelan, Kamis (1/9/2022).

RIAUCERDAS.COM - SMKN 3 Pekanbaru dipercaya Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi menjadi Pusat Belajar pelaksana program upskilling dan reskilling guru SMK Bidang Perhotelan. Ada 20 guru dari sembilan provinsi yang menjalani program tersebut.


Peserta merupakan guru-guru SMK Bidang Perhotelan dari luar Riau. Seperti dari Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Lampung, Bali, Sulawesi Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Utara. 


Selama mengikuti program di Pekanbaru, peserta akan disebar di empat hotel. "Ada yang di Hotel Novotel, Premiere Hotel, Hotel Royal Asnof dan Batiqa Hotel," ujar Kepala SMKN 3 Pekanbaru, Rita Johan saat acara pembukaan, Kamis (1/9/2022).


Nanti, peserta dibagi menjadi empat kelompok. Dimana, setiap kelompok ada lima orang. Mereka inilah yang akan ditempatkan di hotel-hotel rekanan Pusat Belajar SMKN 3 Pekanbaru. Di sana, mereka akan memperbaharui pengetahuan dan kemampuan terkait ilmu perhotelan. Tentunya, sesuai dengan kebutuhan saat ini.


Selanjutnya, apa yang sudah dipelajari dalam program ini mesti menjadi bekal bagi seluruh peserta untuk dibagikan ke siswa di sekolah masing-masing. Dengan demikian, siswa memperoleh ilmu yang terbaru terkait bidang perhotelan.


Dijelaskan Rita, terpilihnya SMKN 3 Pekanbaru sebagai Pusat Belajar tak lepas dari pengalaman yang pernah dijalani. Dimana, sekolah ini pernah juga menjadi Pusat Belajar untuk Bidang Keahlian Ganda. "Saat itu kita jadi Pusat Belajar terbaik," kata dia.


Atas bekal itulah, pihak sekolah kembali dipanggil oleh kementerian. Di samping itu, penunjukkan juga tak lepas dari dukungan pihak industri pada SMKN 3 Pekanbaru. Dimana, hotel-hotel mitra siap menjadi tempat digelarnya program upskilling dan reskilling tersebut.


Dia berharap, selama di Pekanbaru, seluruh peserta sehat. Sehingga peserta bisa belajar dengan baik. Setelah melaksanakan tugas-tugasnya, peserta dapat mentransfer ilmunya ke sekolah masing-masing," tuturnya.


Sementara, GM Novotel, Sentot Lasiyanto menilai pendidikan vokasi harus bisa memperkuat persaingan antarnegara. Dimana, Indonesia diharap memiliki sumber daya yang bisa diunggulkan. Menurut Sentot, kunci dari hal ini tentu sumber daya manusia.


"Jika selama ini SMK berjalan berdasarkan persepsi pendidikan di sekolah saja, kini harus sejalan dengan dunia industri. Karena itu, IDUKA bersyukur kini ikut menyusun 70 persen kurikulum yang diterapkan di sekolah," tuturnya.


Karena itu, pihak industri menyambut positif kegiatan upskilling dan reskilling bagi para guru SMK ini. "Gunakan waktu yang cukup singkat ini dengan menyerap ilmu, keahlian dan keterampilan sebanyak-banyaknya dari dunia industri. Sehingga bisa diterapkan di dunia pendidikan setelah kembali," ujar Sentot.


Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Riau, Dr Yusri Rasul menjelaskan bagaimana dukungan besar pemerintah pada pendidikan vokasi akhir-akhir ini. Dia mencontohkan hadirnya Peraturan Gubernur Riau terkait pendidikan vokasi. 


Menurut dia, dalam regulasi soal vokasi ini, link and match adalah bagian terpenting. Sebagai bukti, GM dari berbagai hotel telah hadir dan turut serta mensukseskan dunia pendidikan. Konsekuensinya, IDUKA yang ikut berpartisipasi ada keuntungan juga. Bisa berupa pemotongan pajak dan sebagainya.  


SMK, tutur Yusri, punya tugas berat. Karena selain dituntut mendorong terciptanya angkatan siap kerja, juga memacu adanya angkatan muda yang berwirausaha. Diharap, ke depan, muncul unit-unit usaha baru yang diinisiasi oleh alumni SMK. 


"Karena itu, ini momen strategis. Di saat Indonesia Emas di tahun 2045, kita sudah membentuk karakter baik mereka, memberikan mereka arah yang baik dan memberi pembelajaran yang sesuai kebutuhan industri. Dengan demikian, siswa memiliki kemampuan yang sesuai kebutuhan industri," kata dia.  (ed)