Prof Nurman Dikukuhkan Jadi Guru Besar Kebijakan Publik di Fisipol UIR

Prof Nurman merupakan guru besar ke-13 di Universitas Islam Riau. Ia menjadi guru besar setelah enam tahun menjalani prosesnya.

Prof Nurman Dikukuhkan Jadi Guru Besar Kebijakan Publik di Fisipol UIR
Prof Dr Nurman S.Sos M.Si menyampaikan orasi ilmiah usai dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Islam Riau, Kamis (19/1/2023).

RIAUCERDAS.COM - Jumlah guru besar di Universitas Islam Riau (UIR) resmi bertambah. Kamis (19/1/2023), Rapat Terbuka Senat UIR mengukuhkan Prof Dr Nurman, S.Sos., M.Si sebagai guru besar bidang ilmu kebijakan publik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). 


Dalam rapat terbuka tersebut, Prof Nurman juga membacakan orasi ilmiah yang diberi judul 'Peranan Administrative Executive dalam Perspektif Merumuskan Kebijakan Publik' di hadapan senat universitas serta seratusan undangan yang hadir di Auditorium Lantai IV UIR. 


Dalam penjelasannya, Prof Nurman mengatakan bahwa pada pelaksanaan organisasi publik, ada yang disebut dengan administrative executive atau perumusan kebijakan. Kemudian ada manajer/direktur atau pelaksana kebijakan yang bekerja demi suatu tujuan.


Tujuan yang ingin dicapai berpedoman kepada prinsip-prinsip pelaksanaan proses administrasi. Yaitu, efisiensi dari sisi penggunaan biaya dasar untuk dapat bertahan, efektif dari sisi manfaat dasar untuk dapat berkembang, rasional dari sisi penggunaan sumber daya dan hasil akhir yang ingin dicapai. Lalu,  ekonomis dari sisi pengorbanan serta produktif dari sisi keberlanjutan.


Tujuan itu diimplementasikan dalam suatu kebijakan. Ini merupakan konsep dasar yang dapat dijadikan pedoman dan standar dalam melakukan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak.


Keberhasilan suatu kebijakan akan ditentukan oleh tingkat kepuasan pengguna. Untuk itu, proses perumusan kebijakan perlu memperhatikan enam kebenaran. Yaitu, benar dari segi proses, benar isi, benar politik, benar hukum, benar manajemen dan benar bahasa.


Meskipun demikian, Nurman menegaskan, tidak 100 persen kebijakan diterima oleh pengguna. Tetapi tidak 100 persen juga pengguna yang menolak suatu kebijakan. Karena, administrative executive merupakan solusi. Bukan menyalahkan orang lain dan mencari kesalahan suatu kebijakan.


Nurman juga memaparkan bahwa idealnya seorang administrative executive mempunyai modal dasar keberhasilan dalam merumuskan kebijakan publik. Yaitu, iman, ilmu dan amal yang tercermin dari kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, dan kepedulian. 


Sementara, Rektor UIR, Prof Dr Syafrinaldi SH MCL dalam sambutannya menyampaikan selamat kepada Prof Nurman yang dikukuhkan sebagai guru besar ke-13 di UIR. Dia juga mengapresiasi kinerja Nurman yang gigih bekerja. Bahkan karirnya dimulai dari pegawai administrasi hingga menjadi dosen. 


"Sebagai dosen, beliau juga memperlihatkan kegigihan dalam bidangnya. Buktinya, berbagai amanah dipercayakan. Mulai dari dekan hingga wakil rektor. Karena itu, manusia seperti ini tidak banyak. Karena itu harus dilestarikan," ucap Rektor.


Dia menilai, Prof Nurman perlu menjadi contoh. Khususnya bagi dosen lainnya untuk meraih guru besar. Menurut Rektor, di UIR saat ini masih ada 10 orang lagi yang tengah berproses menjadi calon guru besar. "Kita berharap, mereka segera dikukuhkan sebagai guru besar," ujar Rektor. 


Menurutnya, hal ini merupakan kinerja yang luar biasa bagi UIR dan LLDikti Wilayah X. Karena, pengembangan sumber daya guru besar menjadi indikator kinerja bagi Kepala LLDikti. 


Tak hanya itu, sebanyak 186 orang doktor yang ada di UIR juga diharapkan segera menyusul menjadi guru besar. "Kami selalu memberi semangat kepada rekan dosen bisa menjadi guru besar dan membanggakan UIR," ujar Syafrinaldi.


Dijelaskan rektor, di akhir Desember 2022, ia dan LLDikti X menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dimana, UIR menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Wilayah X yang dapat penghargaan kategori Kerjasama Internasional Terbaik. Diharapkan, di tahun ini semakin banyak lagi anugerah yang diperoleh UIR.


Di tahun 2023, UIR juga jadi satu-satunya universitas swasta di Indonesia yang dipercaya pemerintah Jerman yang mendapat program pertukaran dosen dengan dua universitas di Jerman. Syafrinaldi berharap, kerjasama UIR dengan kampus-kampus di Jerman bisa terus berlanjut di masa mendatang.


Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah X, Afdalisma menyampaikan selamat kepada Prof Nurman yang dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu kebijakan publik di Fisipol UIR. Dia berharap, Prof Nurman terus memberikan manfaat bagi universitas, provinsi maupun nasional. 


Menurut dia, perjalanan menjadi guru besar tidaklah mudah. Buktinya, Prof Nurman proses guru besarnya memakan waktu 6 tahun. Artinya, butuh kesabaran dalam menjalaninya. Dia berharap, keberhasilan Prof Nurman menginspirasi seluruh dosen di UIR.


Jumlah guru besar di Riau baru 15 orang atau 0,84 persen. Hal ini menjadi tugas LLDikti untuk terus mendorong pimpinan universitas agar dosen-dosennya segera meningkatkan jabatan akademiknya. Mulai dari lektor ke lektor kepala hingga menjadi guru besar. (*)