Pidato Sultan Siak yang Memukul Telak Belanda

Dalam pidatonya, Sultan dengan tegas menyatakan keinginannya agar rakyat memilih merdeka bersama Republik Indonesia. Sultan Syarif Kasim II juga menyerukan agar rakyat terus berjuang menegakkan dan mempertahankan Republik Indonesia.

Aug 16, 2021 - 21:08
 0
Pidato Sultan Siak yang Memukul Telak Belanda
Sultan Syarif Kasim II, Sultan Kerajaan Siak. (Sumber: Net)

KEMERDEKAAN Indonesia resmi diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Muhammad Hatta di Jakarta. Namun, kabar tentang proklamasi kemerdekaan itu tak serta merta tersebar ke seluruh wilayah jajahan Belanda di nusantara.

Di wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura, kabar resmi tentang kemerdekaan Indonesia itu baru sampai  sekitar dua bulan kemudian. Hal itu dipastikan setelah Sultan Syarif Kasim II, pemimpin Siak saat itu mengutus O.K.M. Djamil ke Pekanbaru pada bulan Oktober 1945.

Dari O.K.M.Djamil, berita resmi kemerdekaan Indonesia didapat. Kemudian, pada tanggal 28 November 1945, Sultan  Syarif Kasim II yang masih memegang tampuk kekuasaan di kesultanan berkirim telegram kepada Soekarno yang sudah menjadi Presiden Republik Indonesia.

Isi telegram itu menjadi titik tolak bergabungnya kesultanan Siak ke dalam Republik Indonesia. Sultan Syarif Kasim II  juga menyatakan kesetiaannya  kepada  Pemerintah  Republik  Indonesia  (Siak Masa Revolusi (1945-1949) ; Jurnal YUPA Univesitas Sumatera Utara: 2020).

Dalam jurnal yang ditulis Murni Wahyuni, Budi Agustono dan Warjio itu, dituliskan bahwa sikap Sultan tak mendapat pertentangan. Sebaliknya, keputusan itu diterima sangat baik oleh rakyat  Siak.  

Selanjutnya, sama-sama diketahui bahwa pengorbanan Sultan Syarif Kasim II bukan hanya dari segi moril. Kekuasaannya sebagai seorang pemimpin kerajaan pun diserahkan. Bahkan, demi menghilangkan kolonialisme di tanah Siak, Sultan Syarif Kasim menyerahkan hartanya untuk republik.

Sejarah mencatat, Sultan pernah menyerahkan permata-permata kepada Gubernur Sumatera, T.M. Hasan. Selanjutnya, kita pun tahu bahwa Sultan menyerahkan semua hartanya kepada  Republik Indonesia. Termasuk Istana Asserayah Hasyimiyah beserta tanah dan lain-lain untuk membantu perjuangan Republik Indonesia. Selanjutnya, Sultan menjadi warga negara biasa.

Selain menyumbangkan harta, Sultan Syarif Kasim II juga dikenal aktif mendorong raja-raja di wilayah Sumatera Timur lainnya untuk berintegrasi ke Republik Indonesia. 

Siak Raad

Pada tahun 1946 di saat usia republik masih sangat belia, revolusi sosial pecah di Sumatera Timur. Kaum bangsawan (para sultan dan keluarga) menjadi sasaran dari revolusi sosial itu. Salah satunya adalah penyair Amir Hamzah yang merupakan kerabat Kesultanan Langkat. 

Amir Hamzah yang belakangan mendapat gelar pahlawan nasional itu meninggal secara tragis dibunuh Tentara Rakyat Revolusi Sosial di areal Kuala Begumit. Sebelum dibunuh, Amir Hamzah dan tahanan lainnya disuruh menggali lubang yang akan menjadi kuburan mereka sendiri (Sejarah Sosial Kesultanan Langkat; Litbangdiklat Press:2020).

Pada 1946, Belanda  menduduki  Medan. Kemudian, ibukota  Provinsi  Sumatera dipindahkan ke Pematang Siantar dan Gubernur Sumatera Teuku Muhammad Hassan juga ikut pindah. Begitu juga dengan Sultan Syarif Kasim II dan keluarga ikut pindah ke Pematang Siantar.

Kemudian, Sultan pindah ke Aceh. Kondisi inilah yang mendorong terbentuknya Dewan Sultan (Sultan Raad) di Siak. Dimana, berdasarkan konstitusi Kesultanan Siak, apabila Sultan tidak dapat menjalankan pemerintahannya, maka pemerintahan akan dijalankan oleh Dewan Sultan.

Kemudian, oleh Belanda, dibentuklah Dewan Sultan dan Dewan Rakyat Siak (Siak Raad) tanpa sepengetahuan Sultan Syarif Kasim II. Lewat dewan-dewan itu, TBA  Mr. GJA Veling di  Bengkalis berharap dapat menguasai seluruh Kerajaan Siak. 

Setelah tahu tentang terbentuknya Siak Raad, dari Kutaraja, Aceh, Sultan Syarif Kasim II berpidato dan disiarkan lewat Radio Republik Indonesia (RRI). Pidato itu didengar oleh rakyat  Siak.

Dalam pidatonya, Sultan dengan tegas menyatakan keinginannya agar rakyat memilih merdeka bersama Republik Indonesia. Sultan Syarif Kasim II juga menyerukan agar rakyat terus berjuang menegakkan dan mempertahankan Republik Indonesia.

Pidato itu menjadi titik balik yang akhirnya mengejutkan pihak Belanda. Karena tokoh-tokoh di dalam Siak Raad terdorong mengikuti keinginan Sultan.

Dalam sidang paripurna yang diadakan Belanda di Bengkalis, Siak Raad menghasilkan keputusan mengejutkan pihak penjajah. Karena, Siak Raad justru tidak  mengakui dan tidak mendukung Datuk Kasim Aris sebagai utusan Siak pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Dewan itu juga memutuskan bahwa seluruh wilayah kerajaan Siak menggabungkan diri dengan  Republik Indonesia. 

Sebagai wujud komitmen itu, mereka mengirimkan Datuk Wan Entol, Datuk Ahmad dan Mas  Slamet sebagai utusan dan menyampaikan keputusan bergabungnya Kesultanan Siak ke dalam Pemerintahan Republik Indonesia. (Siak Masa Revolusi (1945-1949); Jurnal YUPA Univesitas Sumatera Utara: 2020).

Keputusan yang tak sesuai ekspektasi ini memukul langsung kebijakan Belanda. Karena diputuskan langsung di depan para pejabat Belanda.  (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Hendra Moderator, penulis