Pada Ribuan Mahasiswa UMRI, Zulhas: Siapa yang Siap Bisa Kendalikan Dunia

Menteri Perdagangan RI, Zulkifli Hasan berbicara di hadapan ribuan mahasiswa UMRI, Senin (26/9/2022). Di hadapan para mahasiswa, Zulkifli mendorong agar mereka harus mampu merancang peta jalan hidupnya terlebih dahulu.

Pada Ribuan Mahasiswa UMRI, Zulhas: Siapa yang Siap Bisa Kendalikan Dunia
Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan menyampaikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa UMRI, Senin (26/9/2022).

RIAUCERDAS.COM - Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Zulkifli Hasan memberi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) pada Senin (26/9/2022) pagi. Kuliah umum tersebut dihadiri 2.412 mahasiswa UMRI. 


Sejumlah tokoh juga tampak hadir bersama Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu. Seperti anggota DPR RI, Jon Erizal, Bupati Siak, Alfedri, Dirjen Perdagangan dan lain-lain.


Menurut Zulkifli, di 109 hari dirinya resmi menjabat jadi Mendag, harga TBS Rp600 per Kg. "Saya ditugaskan presiden dalam dua bulan harus Rp2.000. Ini kalau di film dianggap mission imposible. Tapi kini, harganya sudah di atas Rp2.000. Ini tentu bukan hal yang mudah," terang pria yang akrab disapa Zulhas ini.


Minyak juga sebelumnya tak jelas harganya. Tapi kini, Minyak Kita sudah Rp13.500. Sementara minyak yang bermerek, dari yang sekitar Rp 20 ribu kini berkisar Rp 16 ribu. Sementara, harga cabai yang sebelumnya ratusan ribu kini sekitar Rp 50 ribu. 


"Hari ini beras memang naik sedikit untuk yang bermerek. Tapi beras Bulog, harganya tetap. Karena, berapapun naiknya, beras Bulog tetap disubsidi oleh pemerintah," ujarnya.


Zulhas juga menyorot kesulitan anak muda di Riau memasarkan produknya. Termasuk untuk ekspor. Untuk itu, Kementerian Perdagangan mengembangkan platform digital yang memungkinkan orang tahu di suatu daerah ada produk apa saja. Ada juga tol way yang memungkinkan produk UMKM mampu tembus ke pasar internasional.


Mendag juga mengkampanyekan agar produk nasional bisa go international. Sehingga, produk-produk asli Indonesia bisa dijual oleh anak bangsa sendiri bukan oleh negara lain.


Namun, tambahnya, tiap orang, termasuk mahasiswa harus mampu merancang peta jalan hidupnya terlebih dahulu. Tahun ini apa yang hendak dilakukan, tahun depan apa lagi. Jadi ada rencana yang membuat hari-hari mereka lebih produktif. 


Menurut Zulhas, dunia cepat berubah. Bagi bangsa yang tidak siap akan tersisih. Karena dunia sudah tanpa batas. Persaingan tidak antarmahasiswa dalam satu kampus saja. Tapi mahasiswa UMRI juga akan bersaing dengan mahasiswa dari negara lain di dunia.


Menurut dia, Tuhan memberikan kasih sayang yang sempurna bagi seluruh alam semesta. Termasuk manusia. Misalnya matahari yang memberi terang dan kehangatan untuk siapa saja. Tidak peduli Islam, Kristen, Budha dan lainnya. Tidak ada dibedakan satu dengan yang lain.


"Oleh karena itu, mana yang siap dan mengikuti hukum Tuhan, maka dialah yang bisa mengendalikan serta mengatur dunia. Siapapun orangnya," ujar mantan Menteri Kehutanan RI ini.


Menurut Zulhas, dulu, Amerika sangat takut dengan Islam karena pengalaman sejarah. Tetapi, sekarang di Amerika, tidak boleh ada lagi Islamofobia. Baik Amerika maupun Barat tidak lagi mengkhawatirkan Islam. Bahkan, hari ke hari ada dialog antara Islam dengan agama lain. 


Barat menyadari, kompetitor aslinya adalah Tiongkok. Karena itu isu yang dibangun berubah. Ada isu iklim, lingkungan, HAM dan isu agama. Buktinya, Barat ikut membela pelanggaran HAM bagi kaum Uighur di China.


Timur Tengah, khususnya Arab Saudi juga berubah 180 derajat. Kota Haram hanya ada di Mekkah. Sementara, kota lainnya sudah jauh berubah. Di Jeddah dan Riyadh misalnya, sudah ada kebebasan. Perempuan Arab sudah bebas menyetir, dagang, kerja di toko dan sebagainya. "Arab Saudi sudah moderat," ungkapnya.


Menurut Zulhas, Islam itu modern dan terbuka. Bukan menutup diri. Oleh karena itu, menghadapi peradaban dunia, Islam pernah 1.000 tahun memimpin dunia. Sementara, sekarang Tiongkok yang berkembang pesat. Padahal, di sana orang-orang banyak yang tidak salat, tidak puasa penuh satu bulan dan sebagainya.


"Di Singapura pun begitu. Banyak warganya yang tidak salat. Bahkan banyak yang atheis. Belum lagi di Korea Selatan dan Jepang yang negaranya sangat maju," ungkapnya. Di sini menunjukkan bahwa hidup itu kompetisi. Mulai lahir, tiap orang berkompetisi. Karena itu, yang tidak siap akan tersingkirkan.


Hidup, ujar Zulhas, sejatinya bertarung. Begitu juga dengan peserta yang jumlahnya lebih dari 2.400-an orang nantinya akan lulus dengan waktu berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tergantung kemampuan masing-masing.


"Jadi intinya, kita ini ada untuk bersaing. Siapa yang bisa menyiapkan diri dengan baik, maka dia survive. Kalau tidak baik, maka akan tersingkirkan," katanya. Menurut Zulhas, hukum Tuhan sudah pasti. Karena tidak ada lagi mukjizat setelah Alquran.


Tiap orang punya modal yang sama. Yaitu, satu hari 24 jam. "Tidak ada yang diberikan lebih," tegasnya. Tak peduli seseorang itu rektor atau mahasiswa. Jadi siapa yang bisa mengoptimalkan waktu itu, maka ia akan menjadi manusia yang unggul.


Manusia, terangnya, punya kemampuan memilih atau free will. Berbeda dengan ciptaan lainnya. Karenanya, manusia ada yang sukses dan tidak. Ada yang beragama dan tidak. Karena itu, tidak boleh sombong menghukum orang lain. "Jangan tuding orang masuk surga atau neraka. Karena kita tidak punya kemampuan untuk menentukan hal itu," tegasnya.


Pilihan orang, tambahnya, akan menentukan kuantitas dan kualitas. Demikian pula bagi mahasiswa. Karenanya, jika ada yang sudah umur 19 tahun tapi belum bisa mandiri, maka harus hati-hati. Artinya, mahasiswa bersangkutan belum bisa mengembangkan diri sendiri.


Manusia, tambahnya, akan ditentukan dari keteguhan jiwa, ketekunan dan sebagainya. "Setuju atau tidak, hidup itu kompetisi. Lihat bagaimana orang di Jepang, Korea berjuang. Sehingga mereka maju. Sebaliknya, jika ada orang Islam malas, maka tidak akan bisa maju," tegasnya.


Sebagai orang Islam, tambahnya, tidak boleh takut dan malas. Tauhid, tambahnya, mesti membuat umat Islam berani berbuat lebih baik. Karena, orang Islam punya lima kali dalam sehari waktu untuk mengevaluasi diri. "Mulai dari subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya punya waktu untuk mengevaluasi diri," terang Ketua Umum PAN ini.


Tiap orang boleh memilih. Mau jadi gagal atau orang sukses. Semua ada di tangan tiap orang. Oleh karena itu, tiap orang punya akan dan rasa. Tidak sekadar diberi nafsu dan indera. Akal, tambahnya, jika dilatih terus akan menjadi pikiran yang bernilai atau ilmu. Sementara, rasa yang dilatih akan jadi dzikir. Pikir akan menghasilkan ilmu dan dzikir akan menghasilkan keimanan yang kokoh.


Sementara, Rektor UMRI, DR Saidul Amin MA dalam sambutannya mengatakan, mahasiswa yang hadir lebih kurang 2.412 orang. Sebanyak 167 di antaranya non-muslim. Ini menjadi simbol bahwa Muhammadiyah itu seperti matahari, menerangi siapa saja. 


Diharap, apa yang disampaikan dalam kuliah umum ini memberi motivasi agar mahasiswa menjadi tunas bangsa yang memberi kebaikan bagi umat manusia. (*)