Kebun Kelapa Terimbas Air Laut, Udin Beralih Jadi Nelayan Kepiting Bakau

Udin sekarang beralih profesi menjadi nelayan khusus pencari ketam atau kepiting bakau semenjak kebun kelapanya rusak akibat instrupsi air asin.

Kebun Kelapa Terimbas Air Laut, Udin Beralih Jadi Nelayan Kepiting Bakau
Udin menunjukkan pento yang dipakai untuk menangkap kepiting bakau. (Riau Cerdas/Khamidi Setyo Budi)
Kebun Kelapa Terimbas Air Laut, Udin Beralih Jadi Nelayan Kepiting Bakau
Kebun Kelapa Terimbas Air Laut, Udin Beralih Jadi Nelayan Kepiting Bakau

“Kebun kelapa sudah tidak bisa di harapkan lagi, tumbang, mati sendiri karena masuk air laut ke kebun kelapa kami”.

Begitulah keluhan Udin warga Kelurahan Sapat kecamatan Kuala Indragiri kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Udin sekarang beralih profesi menjadi nelayan khusus pencari ketam atau kepiting bakau semenjak kebun kelapanya rusak akibat instrupsi air asin. Instrupsi air asin itu tidak hanya merusak kebun Udin, namun juga masyarakat lainnya sejak tahun 2012.

Akibat kondisi itu, sebagian masyarakat pindah ke kota kabupaten. Beberapa lagi pindah ke kota kecamatan.

Potensi kepiting yang begitu banyak menjadi sumber pendapatan utama dalam mencukupi kebutuhan ekonomi setelah kebun kelapa rusak. Alat yang digunakan untuk menangkap kepiting adalah benda yang disebut Pento oleh masyarakat pesisir Indarigiri.

Pento adalah alat seperti bubu namun berbentuk tabung silinder serta mengerucut di bagian atasnya. Kemudian, terdapat dua pintu di tengah sebagai perangkap masuknya kepiting. Pento yang telah diberi umpan akan dipasang di parit ketika air pasang. Kemudian, Pento diangkat ketika air akan surut.

Para nelayan pencari kepiting ini bisa memiliki 30-100 Pento. Bahkan ada yang lebih. Pento dipasang dengan pancang kayu sepanjang sekitar 2- 3 meter. Kayu ditancapkan ke dasar parit.

Tepatnya di Parit 28, Udin bersama empat temannya rela meninggalkan keluarga di kota Tembilahan dan tinggal di gubuk-gubuk kecil di pingir parit hingga berhari-hari untuk mencari kepiting. Udin sendiri biasanya menghabiskan 10 hari mencari kepiting dan lima hari libur.

Di sekitar gubuk tempat Udin tinggal ternyata dulunya bekas hunian masyarakat. Menurut Udin, 10 tahun lalu tempat ini adalah pemukiman masyarakat. Dulu, ramai orang yang tinggal di sini. Namun, akhirnya sebagian tanah ada yang dijual. Sebagian sudah tidak laku dijual karena masuk air laut. Akhirnya ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.

Sisa-sisa bangunan yang banyak terdapat di sekitar gubuk kecil tempat nelayan kepiting itu sebagai penanda kawasan ini dulunya memang jadi kawasan hunian.

Menurut Udin, hasil tangkapan kepiting nelayan ini biasanya  langsung dijual ke pengepul. Untuk harga kepiting berbeda-beda tergantung dengan grade-nya. Grade merupakan penggolongan kepeting dalam berat dan ukuran untuk penentuan harga. Kepiting dalam harga dibagi menjadi tiga. Yaitu grade A, B dan C. 

Harga sangat dipengaruhi dengan musim dan permintaan pasar. Udin juga mengatakan dari hasil menjadi nelayan kepiting, jumlah uang yang ia peroleh tidak menentu. Terkadang Rp2 juta sampai Rp3 juta kalau beruntung. 

Meski demikian, Udin tetap besyukur anaknya masih bisa lanjut sekolah dan kebutuhan rumah tercukupi. Daripada di sini kelapa sudah tidak bisa diharapkan," kata dia lirih. (mid)