Hasil Laboratorium Ikan Mati di Sungai Kampar Tak Pernah Disampaikan ke Warga

Memasuki hari kelima, tim Ekspedisi Susur Sungai Kampar 2 Mapala Humendala mengeksplorasi tempat bersejarah dan menampung aspirasi para nelayan. Apa saja yang disampaikan nelayan? Ini tulisan lanjutan penulis riaucerdas.com yang langsung ikut dalam ekspedisi.

Hasil Laboratorium Ikan Mati di Sungai Kampar Tak Pernah Disampaikan ke Warga
Anak-anak tengah memancing di Sungai Kampar. Dalam ekspedisi Susur Sungai Kampar 2 Mapala Humendala, tim mendengar keluhan nelayan. (Riau Cerdas/Khamidi Setyo Budi)

RIAUCERDAS.COM - Secara pribadi, suatu kebanggaan bagi saya bisa bermalam dan beristirahat di Kompleks Istana Sayap. Pagi-pagi sekali, saya bangkit dari tempat tidur lalu bergegas ke Masjid Hibbah untuk mendirikan salat subuh. Terasa spesial karena masjid ini tak lepas dari sejarah Kerajaan Pelalawan dan sudah ditetapkan menjadi cagar budaya. 


Pukul menunjukkan 9:00 pagi, tim sudah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pengarungan dalam hari kelima Ekspedisi Susur Sungai Kampar 2 Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Humendala Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, Jumat (2/ 12/2022). 


Briefing bersama pagi ini juga dihadiri Babinkamtibmas Polsek Pelalawan, Novri. Kepada kami, ia mengucapkan terima kasih dan berpesan agar berhati-hati. "Tetap berhati-hati selama perjalanan. Sungai Kampar ini berbeda dengan sungai lainnya. Jaga lisan dan perbuatan selama di sungai," pesannya.


Dia berterimakasih karena tim ekspedisi telah bermalam dan mengeksplorasi Istana Sayap yang bersejarah. Novri berharap, seluruh anggota tim menyampaikan ke masyarakat luas mengenai Istana Sayap agar banyak orang berkunjung ke sana. Selain untuk mengetahui sejarah Pelalawan, kunjungan wisatawan diharapkan turut membantu meningkatkan perekonomian masyarakat tempatan.


Mesin perahu sudah dinyalakan pertanda tim harus mulai berangkat untuk meninggalkan darat. Mengingat hari ini Jumat, kami berharap bisa sampai ke Desa Kuala Tolan lebih cepat agar bisa salat Jumat berjamaah. 


Kami tidak langsung bergerak ke hilir sungai. Tim menyusuri anak sungai terlebih dahulu di pinggir Istana Sayap. Selanjutnya perahu bergerak masuk. Di hilir anak sungai itu, kami mendapati makam bersejarah yang tak lepas dari kejayaan Kerajaan Pelalawan.


Di situ, tim mengecek kualitas mutu air dan mengambil sampel mikro plastik. Setelah serasa selesai kami bergerak menuju sungai Kampar kembali di depan dermaga istana kembali lagi tim melakukan pengecekan kualitas mutu air.


Cuaca waktu itu cukup panas. Sinar matahari begitu terik. Perahu bergerak ke arah hilir. Sesekali, perahu yang saya tumpangi melambung ke udara karena melawan gelombang. Semakin ke hilir, gelombang air semakin sering kami temui. 


Mesin perahu yang kami tumpangi terasa berat. Zulki anggota Basarnas memindahkan seorang penumpang untuk berpindah ke perahu lainnya. Namun mesin masih saja terasa berat untuk melakukan pengarungan. Kembali lagi kami mendekat ke perahu satunya lagi untuk meminta oli samping mesin. 


Kali ini mesin sudah terasa normal dan salah satu penumpang yang pindah tadi kembali ke perahu kami. Pukul 10:40, kami tiba di Desa Kuala Tolan dan kami disambut kepala desa, RT , dan Babinkambtibmas setempat. 


Kepala Desa Kuala Tolan, Rupardi sempat menceritakan masa kecilnya. Menurut dia, masa dulu selesai main bola, biasanya Rupardi bersama teman-temannya kerap minum air sungai Kampar. "Biasa kami minum, tapi kalau sekarang jangan dicoba," ucapnya.


Saya sempat bertanya tentang peristiwa matinya ikan-ikan di Sungai Kampar sekitar tahun 2019 lalu. Saya ingin tahu apa penyebab matinya ikan-ikan itu. Namun, Rupardi juga tidak mampu menjawabnya.


"Apa penyebabnya, saya tidak bisa mengatakan itu karena limbah perusahaan atau dari pupuk kimia yang selama ini digunakan masyarakat di kebun. Yang jelas sampel ikan sudah dibawa ke laboratorium di Jambi dan sampai sekarang kami tidak tahu apa hasilnya," katanya.


Tim kembali melakukan wawancara ke salah satu nelayan di desa Tolan. Sayangnya, nelayan itu juga enggan namanya ditulis dalam berita ini. Ia hanya bercerita pengalaman buruknya sebagai nelayan merasakan waktu kejadian 2019 lalu itu. Ikan banyak mati sampai berhari-hari. Kalaupun ada ikan yang didapat, tidak laku dijual di pasar karena rasanya yang berbeda. "Kami coba mengolah menjadi salai dan ikan asin," ucapnya. 


Dari kecil hingga kini, ia sebagai nelayan mengaku belum pernah melihat kejadian tersebut. Namun, semenjak hadirnya sejumlah perusahaan, baik yang mengolah bubur kertas maupun kelapa sawit, ikan sungai mati sering terjadi. Namun, peristiwa tahun 2019 lalu ada itulah yang paling banyak. Ia menduga, ada perusahaan yang membuang limbah ke sungai sehingga membuat ikan-ikan mati.


Usai salat Jumat berjamaah di masjid Desa Kuala Tolan, kami bergerak melanjutkan penyusuran. Masih di sekitaran desa, tim kembali melakukan pengecekan kualitas mutu air dan mengambil sampel mikro plastik. 


Selanjutnya, perahu kembali bergerak menuju hilir sungai untuk mencari tempat kami istirahat dan makan siang. Tidak jauh dari pemukiman penduduk kami melabuhkan perahu di pinggiran pohon besar. Di sana kami makan siang dan merehatkan tubuh sebentar.


Perut sudah kenyang badan kembali fit setelah makan siang dan istirahat kami melanjutkan kembali pengarungan menuju Desa Ransang. Pukul 15:00 sore, kami sampai di Desa Ransang. Kembali tim mengecek kualitas air dan mengambil sampel mikro plastik. 


Kami juga mewawancarai beberapa warga dan nelayan di desa Ransang itu. Salah satunya adalah Ridwan. Ridwan mengaku, menjadi nelayan bukanlah mata pencaharian utamanya. Meski demikian, ketika ikan banyak mati kala itu, dia juga merasakan kesedihan.


"Dari Desa Sering sampai nanti ke Teluk Meranti akan sama cerita yang kalian dengar ikan mati di sebabkan limbah perusahaan," ucapnya.


Perahu berlabuh di dermaga desa Ransang sekitar pukul 15:40 WIB, tidak jauh dari dermaga kami bertemu tim darat yang sudah mempersiapkan tempat istirahat malam di kantor desa. Tubuh cukup lelah meski ada di atas perahu. Hari ini, kami memutuskan menginap di desa ini. (mid)