Bicara di Konas IAKMI, BKKBN: Transformasi Penting untuk Percepat Penurunan Stunting

Transformasi sangat dibutuhkan dalam percepatan penurunan stunting. Hal itu di antaranya dapat diwujudkan lewat pendampingan kepada keluarga berisiko stunting, audit kasus stunting yang dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan pemberian bantuan sosial. 

Bicara di Konas IAKMI, BKKBN: Transformasi Penting untuk Percepat Penurunan Stunting
Suasana Forum Ilmiah Tahunan di ajang Kongres Nasional IAKMI yang menghadirkan narasumber dari BKKBN RI, Kamis (24/11/2022)

RIAUCERDAS.COM - Transformasi sangat dibutuhkan dalam percepatan penurunan stunting. Hal itu di antaranya dapat diwujudkan lewat pendampingan kepada keluarga berisiko stunting, audit kasus stunting yang dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan pemberian bantuan sosial. 


"Agar dapat berjalan efektif, konvergen dan terintegrasi, maka diperlukan kerjasama dan kolaborasi yang baik bersama mitra. Harapannya kerjasama dengan mitra kerja dari multi sektor seperti ini akan efektif untuk menghasilkan strategi intervensi yang variatif melalui berbagai elemen di masyarakat," ungkap Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN RI, Prof. drh. Muhammad Rizal Martua Damanik, MRepSc, PhD. 


Hal itu disampaikan Muhammad Rizal saat menjadi narasumber dengan materi percepatan penurunan stunting saat Kongres Nasional (Konas) XV Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Forum Ilmiah Tahunan VIII (FIT-VIII) yang dilaksanakan dari 22-26 November di Pekanbaru.


Menurut Rizal yang mengangkat materi tentang percepatan penurunan stunting dengan pengendalian perilaku merokok, IAKMI sangat dibutuhkan dalam upaya percepatan penurunan stunting tersebut.


Selain Rizal, dr. Eni Agustina, M.Ph yang merupakan Deputi Keluarga Berencana Kesehatan Reproduksi BKKBN RI juga menjadi narasumber dengan materi evaluasi implementasi peran keluarga dan percepatan penurunan stunting.


Selanjutnya, ada Pimpinan Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena, SSi. Apt sebagai keynote speech. Dalam pemaparannya, Emanuel mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya menjalin sinergi dengan semua pihak agar dapat menurunkan angka stunting sesuai dengan amanat presiden untuk menurunkan angka stunting hingga ke angka 14 persen di tahun 2024. 


Strategi percepatan penurunan stunting dilakukan melalui penajaman intervensi melalui pendampingan pra nikah, hamil, dan masa interval. Pelayanan program Bangga Kencana sebagai salah satu pilar dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak terbukti efektif dan hemat biaya dalam mengurangi beberapa penyakit pada ibu dan anak yang tentu pada akhirnya juga akan mendukung penurunan prevalensi stunting. 


"Pada intervensi ini dibutuhkan dukungan ahli kesehatan masyarakat serta tenaga kesehatan," ungkap Emanuel.


Untuk diketahui, dalam Konas IAKMI tahun ini, Provinsi Riau ditunjuk sebagai tuan rumah. Ribuan peserta hadir memenuhi Ballroom Hotel Labersa. Peserta yang datang terdiri dari Pengurus Pusat IAKMI, Pengurus dan Anggota IAKMI Daerah dan Cabang seluruh Indonesia.


Kemudian, Pengurus dan Anggota AIPTKMI, BKKBN, Organisasi Profesi, PAMI, ISMKMI, Stakeholder Rumah Sakit di seluruh Indonesia, LSM/NGO, Pemerhati Kesehatan Masyarakat, Pemerintah Pusat dan Daerah, serta perguruan tinggi.


Ketua Pelaksana Konas-XV IAKMI Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS mengatakan, tahun ini Konas-XV  mengusung tema Evaluasi Implementasi Transformasi Sistem Kesehatan Menuju Cakupan Kesehatan Semesta 2030. 


Topik dan tema yang disusun ini berkaitan dengan stunting, jaminan kesehatan nasional, isu strategis kebijakan kesehatan yang sedang hangat diperbincangkan. 


Sementara, Ketua umum AIPTKMI, Dr. Agustin Kusumayati, M.Sc, P.Hd berharap pertemuan ini menghasilkan ide-ide baru yang segar. “Saya percaya pertemuan kita dalam Kongres Nasional ini merupakan pertemuan yang strategis. Disini kita bertemu, bertukar pikiran, bertukar pengalaman, sehingga harapannya dapat membuahkan ide-ide baru yang segar," ujarnya. 


Tidak hanya menyangkut konsep-konsep besar mengenai keprofesian ataupun keilmuan kesehatan masyarakat, tetapi juga terkait usulan-usulan teknis mengenai apa yang harus dilakukan sebagai langkah konkrit untuk menghadapi situasi yang sekarang sedang berkembang dan mengantisipasi masalah yang mungkin muncul dimasa mendatang. 


"Saya yakin pertemuan kita ini bisa membawa manfaat terbaik bagi masyarakat nusa dan bangsa kita,” ujar Agustin Kusumayati. 


Salah satu tujuan yang hendak dicapai melalui kongres ini adalah meningkatkan pengetahuan dan wawasan para praktisi, peneliti, dan pemerhati masalah kesehatan terhadap isu penting yang aktual dan strategis di bidang kesehatan masyarakat dan stunting pun termasuk ke dalamnya. 


Sementara itu, Gubernur Riau yang diwakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, H. Zainal Arifin, SKM, M.Kes membuka kegiatan secara resmi. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa permasalahan kesehatan yang menjadi prioritas tahun ini adalah stunting, angka kematian ibu, angka kematian bayi, Tuberculosis, dan penyakit tidak menular. 

"Isu ini tentunya sangat relevan dengan konas ini. Melalui pertemuan ini diharapkan ada inovasi, terobosan, serta lompatan yang sangat cepat untuk mendukung program pemerintah di bidang kesehatan," ujar Zainal. (rls)