Begini Cara Disdik Riau Tunjukkan Keseriusan Bangun Pendidikan Vokasi

Dengan sertifikat itu, guru yang bersangkutan sudah layak melakukan pengujian kompetensi di sekolahnya atau di sekolah lain yang sejalan kompetensi jurusannya.

Begini Cara Disdik Riau Tunjukkan Keseriusan Bangun Pendidikan Vokasi
Pemukulan gong tanda dibukanya pendidikan dan pelatihan (Diklat) asesor kompetensi LSP-P1 bersama Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

DINAS Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau menunjukkan keseriusannya membangun pendidikan vokasi. Satu di antaranya dengan menambah jumlah asesor yang bisa melakukan uji kompetensi.

Langkah nyatanya, Disdik menggelar pendidikan dan pelatihan (Diklat) asesor kompetensi LSP-P1 bersama Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kegiatan itu dilakukan mulai 17 -23 November 2021 di Hotel Jatra Pekanbaru.

Diklat asesor ini ditujukan bagi puluhan guru SMK se Provinsi Riau. Setelah proses Diklat, di ujung kegiatan akan ada ujian. Jika lulus, maka guru bakal menerima sertifikat kompetensi dari BNSP. 

Dengan sertifikat itu, guru yang bersangkutan sudah layak melakukan pengujian kompetensi di sekolahnya atau di sekolah lain yang sejalan kompetensi jurusannya.

"Tidak perlu ke BNSP lagi. Maka ketika lulus, yang perlu diburu adalah TUK atau Tempat Uji Kompetensi. Kalau TUK ada di sekolah masing-masing maka tak perlu lagi ke BNSP," tutur Kadisdik Riau, Zul Ikram S.Pd, M.Pd usai membuka acara, Rabu (17/11/2021).

TUK di Riau, menurut dia sebenarnya sudah memadai untuk kompetensi-kompetensi tertentu. Namun, jika TUK di sekolah A belum memadai, maka siswa bisa mengikuti uji kompetensi di sekolah yang lengkap.

REKOMENDASI UNTUKMU: Guru SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru Ikuti Workshop Sosial Media Marketing di Jakarta

Kadisdik mengakui, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di Riau saat ini masih minim. Sementara, untuk mewujudkannya di tiap sekolah cukup berat. Meski demikian, Disdik tak mendiamkan.

Menurut Zul Ikram, untuk mengatasi masalah itu, Disdik berupaya menambah jumlah guru yang sudah bersertifikat BNSP. Kemudian Disdik membangun jejaring. Misalnya untuk kompetensi bidang pertanian, akan dipetakan sekolah di daerah mana saja yang banyak memiliki kompetensi itu. Nanti, LSP kompetensi pertanian akan dipusatkan di sana.

Zul Ikram juga berpesan agar guru-guru yang jadi peserta sepenuh hati untuk melakukan perbaikan bidang pendidikan vokasi. "Apalagi, semakin ke depan pengelolaan lembaga pendidikan semakin berat," kata dia.

Untuk itu, Kadisdik berpesan peserta mengikuti semua materi Diklat sebaik mungkin. "Jangan ada bolong-bolong. Ikuti semua materinya," tutur dia. Dia meminta, hasil dari Diklat ini harus seimbang dengan upaya Disdik mempertahankan anggaran untuk penyelenggaraannya.

Terkait kenapa fokus pada LSP P-1, Kadisdik menegaskan hal itu guna mendukung visi dan misi Pemprov Riau. LSP P-1 adalah pengakuan pada kompetensi guru dan siswa di dunia kerja. Dimana, siswa dan guru yang memiliki sertifikat LSP P-1 dapat memanfaatkan lisensi ini sebagai pengalaman kerja di regional tertentu.

Sementara, Kabid SMK Disdik Riau, Edi Rusma Dinata S.Pd, M.Pd menjelaskan bahwa Diklat bertujuan untuk mewujudkan tenaga kerja yang profesional, berdaya saing dan berstandar global. Khususnya bagi siswa pendidikan vokasi.

Menurut dia, salah satu bentuk berkompetennya siswa lulusan SMK ditunjukkan lewat sertifikat kompetensi. Dalam konteks ini, asesor menjadi salah satu komponen penting pada penilaian kompetensi. 

"Penilaian ini sangat strategis. Karena akan menunjukkan kualitas uji kompetensi yang dilakukan. Ini menjadi jaminan mutu bahwa pengujian yang dilakukan telah sesuai dengan yang ditentukan," tuturnya.

Sementara, Sanyoto dari BNSP berharap kegiatan ini bisa berlangsung dan terus meningkat di tahun mendatang. Dia mengajak semua peserta menggaungkan kegiatan sertifikasi. Sehingga Riau mempunyai lulusan SMK yang bakal menjadi tenaga kerja andal. (*)