Atasi Stunting, BKKBN Kenalkan Menu Makanan Bergizi dari Bahan yang Mudah Dijumpai

Dashat atau Dapur Sehat Atasi Stunting merupakan program yang dilakukan untuk mensosialisasikan makanan-makanan yang bermanfaat dalam mengatasi masalah kurang gizi. Bahkan dari bahan yang sederhana dan banyak dijumpai di sekitar kita. Kali ini, BKKBN menghadirkan Chef Deden Prihandy dari Indonesia Chef Association (ICA).

Atasi Stunting, BKKBN Kenalkan Menu Makanan Bergizi dari Bahan yang Mudah Dijumpai
Chef Deden didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Riau, Mardalena Wati Yulia mempraktikkan memasak makanan sehat dari bahan murah dan gampang dijumpai, Jumat (25/11/2022).

RIAUCERDAS.COM - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi Riau menggelar kegiatan Pemberdayaan Kelompok Masyarakat di Kampung KB dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting dan Pembinaan Dashat di Kampung KB Dwikora, Jumat (25/11/2022).


Dashat atau Dapur Sehat Atasi Stunting merupakan program yang dilakukan untuk mensosialisasikan makanan-makanan yang bermanfaat dalam mengatasi masalah kurang gizi. Bahkan dari bahan yang sederhana dan banyak dijumpai di sekitar kita. Kali ini, BKKBN menghadirkan Chef Deden Prihandy dari Indonesia Chef Association (ICA).


Dalam pemaparannya yang disertai praktik langsung kepada ibu-ibu yang hadir, Chef Deden memperkenalkan resep puding lumut daun katuk yang bermanfaat untuk memperlancar ASI bagi ibu menyusui. Ada juga menu mostell dori yang merupakan paduan singkong dengan ikan dori (patin). Kedua menu ini bahan bakunya bisa dengan mudah dijumpai di sekitar kita.


Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Riau, Mardalena Wati Yulia menjelaskan, program ini merupakan langkah nyata dalam percepatan penurunan stunting di Riau. Seperti diketahui, katanya, stunting disebabkan tidak hanya oleh kekurangan gizi, tapi juga pola pengasuhan dan lingkungan. 


Kekurangan gizi pun tidak hanya dipengaruhi faktor kemiskinan tapi juga ketidaktahuan masyarakat mengolah makanan yang layak dikonsumsi. Sebagai contoh di Riau banyak ikan patin, tapi karena tidak tahu mengolahnya, jadi tidak diberikan kepada anak. Padahal, kandungan dalam ikan patin bagus sekali untuk menambah gizi anak.


Ada juga daun katuk dan ubi yang banyak ditemukan dan harganya murah. Tapi karena, selama ini tidak tahu cara mengolahnya, hanya dijadikan sayur biasa. Padahal, bahan-bahan ini dapat diolah menjadi makanan yang menarik tampilannya, sehat dan enak rasanya.


"Makanya BKKBN dalam acara ni mendatangkan pakar mengolah makanan dan ahli gizi. Dengan harapan, warga memberikan informasi ini kepada seluruh keluarga lainnya.  Harapannya, semua pihak berkontribusi dalam percepatan penurunan stunting. Karena kalau hanya BKKBN tidak akan mampu menjangkau masyarakat luas," ujar Mardalena.


Angka stunting di Pekanbaru, tambah dia, memang sudah di bawah angka nasional. Tapi di lapangan, Mardalena mengaku masih melihat ada anak yang mengalami stunting. "Inilah yang harus kita atasi. Kita tidak boleh lengah, harus hati-hati. Jangan sampai ada anak stunting," ungkapnya. 


Menurut dia, ketika anak stunting, perkembangan otaknya tidak akan sempurna. Ketika di sekolah pun, akan kesulitan bagi si anak stunting menangkap materi pelajaran. Alhasil, hal ini mempengaruhi masa depannya.


Karena itu, upaya mengatasi stunting perlu dilakukan bersama-sama. Diharapkan, target menurunkan angka stunting menjadi 14 persen di tahun 2024 sebagaimana harapan Presiden Joko Widodo bisa dicapai.


Sementara, Lurah Sukamulya, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru, Azwar dalam sambutannya berharap seluruh kader KB lebih giat mensukseskan program pemerintah dalam rangka menurunkan angka stunting. "Kami tentu banyak kekurangan di PLKB ini. Mudah-mudahan BKKBN bisa memberikan bantuan," ungkap lurah.


Kita juga mengharapkan lewat kegiatan ini masyarakat mendapatkan pengetahuan lebih. Karena masih ada masyarakat yang belum paham dengan gizi dan upaya penurunan stunting.


Diakui Azwar, di kelurahannya sempat ditemukan dua kasus gejala stunting. Tapi, hal itu bisa diatasi dengan keterlibatan kader KB dan masyarakat setempat. Sehingga, ketika ada anak yang kurang gizi, bisa langsung diintervensi. (*)