Anggrek Hantu, Bunga yang Hanya Bisa Dilihat Saat Fase Berbunga Juga Ditemukan di Vietnam

Anggrek hantu Gastrodia bambu sebelumnya dikenal sebagai tanaman endemik di Pulau Jawa. Namun, sejak 2018, anggrek hantu Gastrodia itu tidak lagi menjadi spesies endemik Pulau Jawa. Karena populasi alaminya juga ditemukan pula di Vietnam.

Anggrek Hantu, Bunga yang Hanya Bisa Dilihat Saat Fase Berbunga Juga Ditemukan di Vietnam
Anggrek hantu Gastrodia bambu. (sumber: lipi.go.id)

ANGGREK hantu Gastrodia bambu sebelumnya dikenal sebagai tanaman endemik di Pulau Jawa. Namun, sejak 2018, anggrek hantu Gastrodia itu tidak lagi menjadi spesies endemik Pulau Jawa. Karena populasi alaminya juga ditemukan pula di Vietnam.

Sebelumnya, pada tahun 2017, Peneliti Pusat Penelitian Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Destario Metusala telah mempublikasikan spesies baru anggrek hantu Gastrodia dari Pulau Jawa yang diberi nama Gastrodia bambu. 

Setahun kemudian, seorang peneliti berkebangsaan Rusia, Leonid Averyanof telah mempublikasikan sebuah spesies baru anggrek hantu Gastrodia khangii berbunga kecoklatan dari hutan Propinsi Son-La, Vietnam dan diduga sebagai spesies endemik yang terbatas.  

Destario kemudian melakukan penelitian mengenai rekaman baru keberadaan anggrek hantu Gastrodia bambu di Vietnam. Hasil observasi mendalam yang dilakukan oleh Destario dalam membandingkan kedua spesies Gastrodia tersebut menunjukkan bahwa keduanya merupakan satu taksa yang sama. 

Seperti dilansir dari situs resmi LIPI, dalam dunia peranggrekan populer, genus Gastrodia spp. seringkali dikelompokkan ke dalam golongan “anggrek hantu”. Hal tersebut disebabkan oleh daur hidup alaminya yang unik, yang mana sosoknya dapat terlihat secara kasat mata hanya pada saat fase berbunga saja. 

Selebihnya, sebagian besar daur hidupnya yaitu dalam bentuk rhizom yang bersembunyi di dalam tanah. Anggrek genus Gastrodia tidak memiliki klorofil dan organ fotosintetik seperti daun, sehingga proses metabolisme pertumbuhannya sangat bergantung dari simbiosis dengan jamur mikroskopik mikorhiza. 

“Itulah kenapa, anggrek ini mustahil dapat ditemukan di alam jika tidak dalam kondisi berbunga," tutur Destario.

Periode berbunganya pun tergolong sangat jarang. Untuk setiap individu rhizom dewasa yaitu hanya 1 atau 2 kali dalam setahun, itupun hanya mekar selama sekitar 1 minggu. Oleh karenanya, butuh keberuntungan besar untuk dapat berjumpa dengan anggrek ini di habitat alaminya.

Pada 2017, Destario Metusala telah mempublikasikan spesies baru anggrek hantu Gastrodia dari Pulau Jawa yang diberi nama Gastrodia bambu. Nama epithet “bambu” diberikan sebagai petunjuk bahwa seluruh individu anggrek yang ditemukan selalu berasosiasi dengan habitat rumpun bambu. 

Dalam publikasinya, spesies ini diduga endemik Pulau Jawa karena catatan rekaman yang ditemukan selama penelitian hanya ada di dua lokasi saja, yaitu Yogyakarta dan Jawa Barat. Namun, ternyata, spesies itu juga ditemukan di Vietnam.

Destario melakukan observasi mendalam. Hasilnya, kedua spesies Gastrodia tersebut menunjukkan satu taksa yang sama, walaupun populasinya terpisah jarak geografis yang sangat berjauhan. 

“Ciri morfologi organ vegetatif rhizom dan bunganya memiliki tingkat similiaritas yang sangat tinggi. Oleh karenanya, nama spesies Gastrodia khangii diusulkan untuk direduksi ke dalam sinonim dari taksa Gastrodia bambu sebagai nama ilmiah yang diterima (accepted), mengingat nama Gastrodia bambu telah dipublikasikan lebih awal,” ungkapnya.

Destario menyimpulkan bahwa dengan demikian, anggrek hantu Gastrodia bambu kini bukan lagi sebagai spesies endemik Pulau Jawa karena populasi alaminya ditemukan pula di Vietnam. Uniknya, populasi Gastrodia bambu di Vietnam juga hanya ditemukan di habitat rumpun bambu seperti halnya populasi di Jawa.

Ada dugaan pula bahwa Gastrodia bambu juga mungkin tersebar alami di sepanjang jalur geografis antara Jawa dan Vietnam (Sumatera, Peninsula Malaysia, hingga Thailand). Hanya saja, dikarenakan daur hidupnya yang unik maka bukti keberadaan spesies ini di kawasan tersebut sangat sulit ditemukan oleh para peneliti sekalipun. 

Dijelaskan dia, kesimpulan penelitian ini juga disetujui Professor Leonid Averyanof dalam komunikasi pribadi. Hasil penelitian tersebut pun sudah dipublikasikan di jurnal global Phytotaxa pada tahun 2020. (*)