Kisah pak Gatot, Lansia yang sempat hanya makan daun ubi karena tak ada uang beli beras

Percaya atau tidak, di Riau nyatanya masih ada warga hidup memprihatinkan. Salah satunya dialami Gatot, warga Jalan Pelita, RT.18/RW.05, Desa Tasik Serai Barat, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Riau. Pria 65 tahun ini bahkan sempat tidak memakan produk olahan beras, gula dan garam sama sekali.

Bukan karena tak mau. Gatot tidak bisa memakan olahan beras, gula bahkan garam akibat tak punya uang untuk membelinya, beliau. Bahkan, saat tak ada uang, Gatot hanya memanfaatkan hasil olahan hutan, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran sederhana untuk dimakan.

“Terus terang, sejak 3 hari lalu saya hanya makan dengan daun ubi, Alhamdulillah ada yang memberi mie instan, dan airnya saya bagi jadi dua, untuk siang dan malam, lalu nanti mienya saya panaskan dengan cara di siram agar tidak basi”, terang Gatot saat dikunjungi tim Rumah Yatim Cabang Riau, Senin (8/2/2021) lalu.

Kedatangan tim Rumah Yatim ini disambut antusias oleh Gatot. Karena, dalam kunjungannya, tim Rumah Yatim membawa serta bahan pokok makanan dan bantuan biaya hidup.

 

Tim Rumah Yatim Riau saat menyerahkan bantuan kepada Pak Gatot (65) pada Senin (8/2/2021) lalu.

Kedatangan tim relawan ke kediaman Pak Gatot bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya tim relawan juga telah bersilaturahmi pada bulan Agustus dan November 2020 lalu, untuk menyalurkan bantuan serupa.

Perjalanan menuju kediaman Pak Gatot sendiri cukup terjal, karena beliau tinggal di tengah-tengah perkebunan sawit, jauh dari lalu-lalang keramaian.

“Perjalannya memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam dari kantor kas. Kami berangkat setelah salat ubuh, sampai di tujuan pukul 09.30”, terang Rizky, salah satu relawan Rumah Yatim.

Di sana, tim relawan langsung membawa Gatot menuju pasar untuk berbelanja kebutuhan pokok. Selain bahan pokok, tim relawan juga membelikan ikan dan juga buah-buahan untuk beliau. Rizky menyampaikan, hasil belanjaan yang ia beli bisa bertahan hingga 5 bulan kedepan bagi Gatot.

Dulu, Gatot bekerja sebagai pembuat batu bata. Namun karena usianya yang sudah mulai senja, pekerjaan itu membawa beban yang cukup berat untuk fisiknya yang sudah tak lagi bugar. Kini batu bata yang mampu ia buat tak sebanyak dulu, karena daya penglihatan beliau pun sudah menurun. Hanya sebelah mata Pak Gatot saja yang masih bisa melihat.

Disamping aktivitasnya membuat bata, beliau juga bercocok tanam seadanya di sekitar tempat tinggalnya di pedalaman kebun sawit. Ia biasanya menanam buah pepaya, ubi serta tanaman sayur mayur lainnya.

“Kadang di malam hari suka ada binatang buas, seperti ular dan beruang. Tadi malam saja ada angsa besar yang mendekati ke sini. Untung tidak mengganggu, burung hantu juga selalu ada di atas rumah ini”, lanjut Gatot.

Sementara itu, Rizky menyampaikan ucapan terimakasih Gatot kepada Rumah Yatim dan donatur atas kepedulian terhadap kondisi hidupnya. “Beliau juga mendoakan para donatur agar mendapat keberkahan dan diberikan balasan yang berlipat ganda atas bantuannya”, tutup Rizky.

 

Bantuan kemanusiaan yang disalurkan Rumah Yatim kepada Gatot bisa terlaksana karena sisihan donasi dari pada donatur. “Mari bantu saudara kita yang lainnya agar dapat mendapatkan penghidupan yang lebih layak dengan donasi ke Rumah Yatim di Jalan Durian No.13, Kelurahan Labuhbaru Timur, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru,” tuturnya.

Bantuan juga dapa ditransfer di no rekening BCA 220 139 8888, bank Mandiri 1720 000 384 125 atas nama Yayasan Rumah Yatim Arrohman. (Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *