Kenapa Varian Baru Corona Cepat Menyebar? Ini Kata Peneliti LIPI

Ilustrasi Virus Corona (Sumber: Wikipedia)

Vaksin Covid-19 sudah mulai disuntikan di Indonesia. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin yang diproduksi Sinovac tersebut. Namun, dunia saat ini masih diperhadapkan dengan temuan varian baru dari SARS-CoV-2 sebagai penyebab penyakit Covid-19.

Varian-varian baru mungkin saja telah muncul dan unik di suatu negara. Namun beberapa di antaranya terlihat menonjol karena varian telah tersebar secara massif dan cepat menular.

“Beberapa varian tersebut di antaranya adalah varian yang pertama kali terdeteksi di Inggris sekitar bulan September. Di Afrika Selatan juga muncul varian lain yang terdeteksi sejak awal Oktober dan ternyata memiliki beberapa kesamaan mutasi dengan varian di Inggris,” ungkap Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Anggia Prasetyoputri.

Dilansir dari lipi.go.id, Rabu (13/1/2021), Anggia menjelaskan bahwa varian baru yang pertama kali terdeteksi di Inggris awalnya menyebar di London dan Inggris Selatan saja. Namun kini dilaporkan terlah bersirkulasi ke banyak negara terutama Amerika Serikat dan Kanada.

Lantas, kenapa varian baru itu cepat menyebar ke beberapa negara? Anggia menyebut bahwa hal itu dikarenakan mobilitas manusia yang masih tinggi. Tidak adanya pembatasan perjalanan juga menjadi faktor pendukungnya.

Dijelaskan dia, varian yang ditemukan di Inggris dinamakan VUI 202012/01 (Variant Under Investigation, year 2020, month 12, variant 01), digolongkann dalam cluster B.1.1.7 lineage. Sedangkan yang ditemukan di Afrika Selatan dinamakan 501Y.V2 dan digolongkan dalam B.1.351 lineage.

Belum ada bukti ilmiah yang menyatakan varian baru tersebut dapat meningkatkan risiko kematian ataupun menyebabkan penyakit yang lebih parah. Hanya saja memang varian tersebut lebih cepat menyebar dan lebih mudah ditularkan.

Anggia menambahkan bahwa tidak ada perbedaan pada cara penyebaran varian baru tersebut. Rute utama transmisi adalah sama melalui respiratory droplet dan aerosol.

Sementara itu, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Sugiyono Saputra menjelaskan bahwa varian-varian baru muncul sebagai bagian dari siklus hidupnya dan akan muncul seiring waktu karena virus terus berubah melalui mutasi. Terkadang varian baru muncul dan yang lainnya menghilang. Namun ada juga yang muncul dan kemudian bertahan.

“Perbedaan varian baru SARS-CoV-2 dengan varian sebelumnya adalah pada banyak tidaknya mutasi pada nukleotida (materi genetik) yang terjadi sehingga membentuk klaster atau lineage tersendiri. Contohnya adalah pada VUI 202012/01, di mana telah terjadi multiple mutations pada spike protein dan secara total telah terjadinya pergantian atau substitusi sebanyak 29 nukleotida jika dibandingan dengan strain SARS-CoV-2 dari Wuhan,” ujar Sugiyono.

Mutasi yang terjadi pada spike protein ini akan berefek pada receptor binding yang bertanggung jawab terhadap kemudahan masuknya partikel virus ke dalam sel inang, sehingga lebih mudah menginfeksi. Varian SARS-CoV-2 yang berasal dari Inggris ini dinilai 70 persen lebih mudah menular dibandingkan varian yang pernah muncul sebelumnya.

Sugiyono menambahkan bahwa langkah pemerintah dalam mendukung kegiatan surveilans terhadap genom SARS-CoV-2 sangatlah tepat. Monitoring secara berkelanjutan melalui kegiatan whole genome sequencing ini berguna untuk memantau perubahan penting seperti mutasi dan variasi genetik dari SARS-CoV-2 yang bersirkulasi di Indonesia.
“Kita harus waspada tapi tidak perlu panik berlebihan,” pesan Sugiyono. Ia menjelaskan kemunculan varian baru ini merupakan sesuatu hal yang alami dan kita tidak bisa mengontrol mutasi-mutasi virus yang terjadi. (ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *