Masa Pandemi, Sampah APD Banyak di Teluk Jakarta

Sampah menumpuk di kawasan Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara, Rabu (14/3/2018) lalu. Hasil riset LIPI, sampah APD makin banyak ditemukan di kawasan ini di masa pandemi. (Sumber/KOMPAS.com)

Sampah medis di muara sungai menuju Teluk Jakarta mengalami peningkatan di masa pandemi Covid-19. Hal itu terungkap dari riset yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi tahun 2020 lalu.

Riset dilakukan dengan kolaborasi peneliti LIPI M. Reza Cordova, Intan Suci Nurhati, Marindah Yulia Iswari dengan Prof. Etty Riani (IPB) dan Dr. Nurhasanah (UT). Hasil riset itu kemudian dirilis dalam jurnal Chemosphere berjudul “Unprecedented plastic-made personal protective equipment (PPE) debris in river outlets into Jakarta Bay during COVID-19 pandemic”.

Riset ini berhasil mengidentifikasi 7 tipe dan 19 kategori sampah menuju Teluk Jakarta melalui Sungai Marunda dan Cilincing di bulan Maret-April 2020.

“Plastik mendominasi sampah di muara sungai sebanyak 46-57 persen dari total sampah yang ditemukan,” ujar Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, M. Reza Cordova sebagaimana dirilis dari situs resmi LIPI, Rabu (6/1/2021). Jumlahnya meningkat sebesar 5 persen. Namun mengalami penurunan berat sebesar 23-28 persen

Hal ini, menurutnya, menguatkan indikasi perubahan komposisi sampah semasa pandemi, yaitu meningkatnya sampah berbahan plastik yang relatif lebih ringan.

Riset monitoring sampah di muara sungai ini mencatat kehadiran sampah alat pelindung diri (APD). Selain masker medis, juga ditemukan sarung tangan, pakaian hazmat, pelindung wajah, jas hujan, yang sangat mencolok dibandingkan dengan sebelum pandemi.

“Sampah APD tersebut menyumbang 15-16% dari sampah di kedua muara sungai, yaitu sebanyak 780 item atau 0,13 ton per harinya,” jelas Reza.

Ia dan tim berharap, peningkatan sampah APD di lingkungan mendorong perbaikan pengelolaan sampah medis yang bersumber dari rumah tangga.

“Sampah APD meningkatkan beban pencemaran. Tidak menutup kemungkinan sampah tersebut menjadi tempat ‘penempelan’ mikroorganisme patogen dan bahan berbahaya bagi ekosistem perairan, serta melepas bahan aditif lainnya” paparnya.

Sementara itu, peneliti lainnya, Intan Suci Nurhati memaparkan bahwa tujuan hasil riset ini adalah mengajak masyarakat turut berperan menjaga kesehatan lingkungan. Apalagi, pandemi Covid-19 masih berkepanjangan. (ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *