Kampung Literasi Pesisir Resmi Berdiri di Pekanbaru

Plt Kadisdik Pekanbaru, Ismardi Ilyas, Pimpinan PKBM Hangtuah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Pengarsipan Pekanbaru berfoto bersama usai pencanangan Kampung Literasi Pesisir, Sabtu (28/11/2020).

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Hangtuah diberi kepercayaan membuka Kampung Literasi untuk masyarakat. Kampung Literasi satu-satunya di Riau itu berada di Kelurahan Pesisit, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru.
Program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini resmi dicanangkan, Sabtu (28/11/2020). Pencanangan dilakukan oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan Pekanbaru, DR Ismardi Ilyas tepat di bawah jembatan Siak IV.

“Program ini akan diarahkan kepada maayarakat sehingga mereka termotivasi menghidupkan budaya membaca. Sehingga masyarakat dan generasi mendatang bisa lebih cerdas,” tutur Pimpinan PKBM Hangtuah, Andi M. Amir.

Program Kampung Literasi ini diharap mendapat perhatian semua pihak. Terutama masyarakat dan pemerintah. Karena Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan PKBM ini punya peran beasr dalam memperjuangkan dan menghidupkan semangat literasi di tengah masyarakat.

Andi mengaku, Kampung Literasi ini sudah mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. Mereka bakal membuka gerai buku untuk dibaca masyarakat. Kemudian, akan digelar pula sejumlah kegiatan yang dapat memicu gairah membaca anak-anak di sana.

“Ini rangsangan dari pusat untuk daerah. Sehingga daerah menganggarkan ke depan untuk membuat program serupa,” tutur Andi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pekanbaru, Ismardi Ilyas mengapresiasi program ini. Karena ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan. Gerakan literasi menurutnya harus dimaknai lebih luas. Bukan sekadar membaca, tapi juga menggerakkan anak-anak untuk menulis.

Gerakan ini sangat penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Karena bukan saja dalam pendidikan formal, gerakan seperti ini lebih menyatu dengan masuarakat. Karena itu, gerakan seperti ini jangan seremonial saja.

“Gerakan nyata dari pencanangan itu jangan sampai tak dirasakan. Karena mengantualisasikan gerakan ini lebih penting,” tuturnya. Sehingga budaya membaca bisa dilihat dimana saja. Baik ketika warga ada di rumah, di tempat bermain, saat duduk dan sebagainya.

Dia menyebut, banyak program di Dinas Perpustakaan dan Pengarsiapan yang bermanfaat untuk menghidupkan budaya membaca. Misalnya bantuan buku dan sebagainya. Masyarakat juga banyak yang memiliki buku dan ingin mewakafkannya.

Untuk itu perlu ada upaya mendapatkannya. “Di perusahaan, di perbankan juga sering memberi bantuan lewat CSR,” tutupnya.

Ismardi juga mendorong semua PKBM dan pengelola pendidikan informal mau bersinergi untuk menghidupkan semangat literasi. (ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *