Kapolda Riau Minta Mahasiswa KKN Umri Ikut Pencegahan Karhutla di Desa-desa

Pelaksanaan Pembekalan dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan X di Universitas Muhammadiyah Riau, Kamis (6/8/2020).

Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menaja kegiatan Pembekalan dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan X, Kamis (6/8/2020). Ada 868 mahasiswa yang bakal menjalani KKN dan disebar ke sejumlah daerah.

Sementara itu, pembekalan yang diberikan disesuaikan dengan tiga hal yang bakal dilakukan mahasiswa saat menjalani KKN Merdeka itu. Di antaranya, terkait pelestarian lingkungan hidup (Karhutla). Materi ini disampaikan oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi.

Kemudian ada tema soal ketahanan pangan yang disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Riau, Drs Asrizal, M.Pd. Lalu sub tema ketiga yang dibahas adalah soal ketahanan keluarga yang disampaikan oleh Salman yang juga dosen Umri.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Umri, Muhammad Ridha Fauzi menjelaskan KKN Merdeka ini merupakan salah satu mata kuliah. Sehingga diberi bobot yang sama dengan mata kuliah lain yang mesti diselesaikan.

KKN dilakukan dua gelombang. Pada Juni kemarin, digelar KKN Satgas Covid-19. Lalu Agustus ini ada KKN Merdeka yang diikuti 868 mahasiswa dan dibagi menjadi sejumlah kelompok. KKN Merdeka menjadi tema karena dilakukan di bulan Agustus. Lalu mahasiswa diharapkan ikut membantu masyarakat agar terbebas dari pandemi Covid-19.

Sementara itu, Rektor Umri, DR Mubarak M.Si dalam sambutannya menjelaskan bahwa pandemi membuat materi KKN berbeda dibanding hal biasanya. Meski demikian, pandemi tidak membuat warga Muhammadiyah mundur. Justru, pandemi ini menjadi tantangan dan bukan membuat lemah.

Selama pandemi, warga Muhammadiyah mesti lebih maju dan makin berkreatifitas. Karena itu di masa pandemi ini, Umri membuat sejumlah terobosan. Di antaranya e-office yang memungkinkan sejumlah masalah administrasi dilayani secara online. Lalu ada juga sistem pembelajaran online. Umri juga memiliki sistem manajemen mutu.

Sementara itu, Kapolda Riau menekankan pembekalan pada upaya mengatasi Karhutla. Menurut dia, ada tiga hal yang harus dibangun untuk mengatasi Karhutla itu. Yaitu bagaimana memadukan sistem teknologi dengan SDM. Itulah, tambahnya, yang membuat munculnya Dashboard Lancang Kuning.

 

Rektor Universitas Muhammadiyah Riau menyerahkan cinderamata kepada Kapolda Riau di acara Pembekalan dan Pelepasan KKN Angkatan X, Kamis (6/8/2020).

“Saya melihat Karhutla lebih disebabkan faktor manusia. Tidak bisa gambut itu tiba-tiba terbakar sendiri. Tapi kelalaian manusia yang bisa menimbulkan api,” tuturnya. Karena itu, sosialisasi ke masyarakat harus gencar dilakukan.

Langkah selanjutnya adalah bagaimana agar pemadaman api lebih cepat. Kapolda menyebut, penanganan selama ini sudah cukup baik. Namun, perlu ada penanganan yang lebih awal. Untuk itu, diperlukan data dari satelit untuk mendekteksi titik api di Riau.

Setelah terpantau satelit, tinggal diverifikasi apakah titik api itu memang terjadi atau tidak. Karena itu diperlukan orang yang memantaunya. Dalam Dashboard Lancang Kuning, sudah ada ribuan anggota polisi dan relawan yang bisa turun ke lokasi jika terpantau hotspot.

Lewat teknologi GPS di dalam dashboard, bisa diketahui siapa orang yang terdekat dengan lokasi. Dari verifikasi ini, bisa diketahui apakah hotspot itu memang menimbulkan titik api atau tidak. Jika iya, segera dilakukan pemadaman.

Kemudian, harus ada pengelolaan orang yang memadamkan apinya. “Karena saat ini banyak orang yang terlibat dalam pemadaman Karhutla. Mereka dikoordinir oleh Kapolsek setempat,” tuturnya.

Pascakebakaran pun, perlu langkah lanjutan. Karena kebakaran mengakibatkan kerusakan lingkungan. Menurut Kapolda, perlu ada pembasahan lahan. Misalnya dengan membuat kanal-kanal di lahan rawan terbakar.

Perkembangan terakhir, saat ini ada lima desa, di Bengkalis, Pelalawan dan Siak yang disiapkan menjadi tempat pelaksanaan program penanganan permanen Karhutla. Formulasinya, ada tiga hal yang harus ditangani. Yaitu, harus ada komando pemadaman yang baik. Untuk ini Polda memakai Dashboard Lancang Kuning.

Selanjutnya, dengan melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC). Teknik ini sudah dikembangkan kementerian bersama BMKG yang melibatkan TNI AU. Ketiga adalah penanganan landscape hutan, kawasan dan tanah masyarakat harus ditata dengan baik.

“Upaya permanen ini harus diwujudkan. Karena jika tidak tahun depan bakal terjadi Karhutla lagi ” tuturnya. Kapolda berharap mahasiswa KKN terlibat dalam upaya penanganan permanen Karhutla di desa-desa ini,” ujarnya. (ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *