Tentang Sekolah dan Siswa yang Bukan Celengan

Sekolah bukan tempat berhasil, melainkan tempat “gagal”. Kalimat tersebut menjadi salah satu bab yang ada di buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia karya Haidar Bagir ini. Kalimat itu merupakan cara sarkastis Haidar dalam memandang pendidikan di negeri ini.

Dalam bab yang dimulai dari halaman 145 itu, Haidar menilai, sistem pendidikan kita, baik paradigma hingga praktiknya mengandung kesalahan-kesalahan fundamental. Dimana kesalahan itu dianggapnya justru meruntuhkan prinsip dasar pendidikan.

Buku terbitan Mizan ini bisa dikatakan kritik keras pada sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah saat ini. Namun, buku ini sekaligus memantik api wacana tentang apa yang seharusnya diperoleh siswa di sekolah. Serta seperti apa sepatutnya sekolah memperlakukan siswa.

Mengutip Paulo Freire, Haidar tampaknya setuju bahwa sekolah bukanlah lembaga yang menerapkan pola banking concept of education. Dimana, siswa dianggap sebagai “celengan” yang harus diisi oleh guru. Siswa bagaikan kertas putih untuk ditulis, dicoret, dihapus maupun digambar oleh guru dengan materi-materi yang sebenarnya belum tentu relevan untuk masa depannya.

Siswa, terlalu dijejali dengan mata pelajaran yang belum tentu ia sukai. Dengan durasi yang lama, dan masa yang panjang. Sehingga siswa merasa lelah. Akibatnya, tak ada waktu dan tenaga lagi untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan riset, dan kemampuan reflektif (hal 129).

Memang, banyak sekolah yang telah memiliki program ekstrakurikuler. Baik musik, seni tari, olahraga, kepanduan, UKS dan sebagainya, tapi sekolah tetap saja menitikberatkan pendidikan pada materi-materi di dalam kelas.

Apalagi, akhir dari pendidikan di sekolah, berhasil tidaknya ditentukan lewat rangkaian tes bersifat terstandarisasi. Beruntung, ke depan, tes seperti ujian nasional ini sudah tak dilakukan lagi.

Haidar, dalam buku ini menekankan pentingnya pendidikan yang memanusiakan. Dimana, tujuan akhirnya, pendidikan itu menjadi kegiatan mengaktualkan potensi manusia. Sehingga yang menerima pendidikan benar-benar menjadi manusia sejati.

Oleh karena itu, pendidikan sejatinya tak sekadar mendorong siswa menjadi anak yang pintar. Tetapi bisa menjadi manusia-manusia yang bahagia.

Haidar menuliskan bahwa anak pintar belum tentu bahagia. Sementara, anak yang bahagia belum tentu pintar. Tapi, baik kebahagiaan maupun kesuksesan tidak selalu ada hubungannya dengan kepintaran. Dengan karakter-karakter tertentu, meski tidak pintar, anak masih berpeluang besar hidup bahagia.

Membaca buku ini paling tidak memberi perspektif lain pada pola pendidikan di sekolah-sekolah kita. Dimana, menghadirkan suasana yang menyenangkan di tengah sekolah membuka kesempatan bagi anak melakukan apa yang ia suka. Memantik kreatifitasnya dan mendorongnya belajar tanpa rasa tertekan sedikitpun.

Tanpa kekhawatiran dianggap anak gagal, anak tak pintar dan pandangan negatif lainnya, siswa lebih mudah terdorong mencoba hal baru, bersemangat dan berani berbeda. Kemudian belajar dengan penuh hasrat dan senang. Dengan kondisi itu, anak akan mampu menyerap pengetahuan dengan lebih baik.

Seperti yang tercantum di sampulnya, buku ini sangat layak dibaca para orangtua, pendidik dan pengambil kebijakan. Bahkan, saya ingin menambahkan, bahwa siswapun perlu membaca buku ini untuk menumbuhkan kesadaran bahwa sekolah mestinya bukan mengekang melainkan memerdekakan imajinasi mereka. (ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *