Dosen Prodi Kimia Umri Latih Warga Olah Sampah Jadi Kompos

Pada 2 Maret 2020 kemarin, Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar program pengabdian masyarakat di Desa Kualu Kampar. Di desa itu, mereka melatih masyarakat setempat melakukan pengolahan dan pemilahan sampah rumah tangga.

“Sampah diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu, juga ada pelatihan pembuatan lobang biofori serta pengolahan kompos bermedia keranjang,” ujar Pj Kegiatan Desa Binaan Prodi Kimia Umri, Hasmalina, Selasa (3/3).

Menurutnya, pelatihan pengolahan kompos dipilih karena potensi limbah organik di desa tersebut tergolong banyak. Baik itu dari dedaunan yang gugur maupun sampah dapur. “Jika selama ini sampah-sampah itu hanya dibakar, kini sebaiknya diolah jadi pupuk,” kata dia.

Di tempat itu, pupuk digunakan untuk diberikan ke lahan tanaman obat keluarga (Toga). Karena selama ini kesuburan tanah berkurang setelah beberapa kali panen. Sehingga penting memanfaatkan pupuk kompos agar unsur hara dalam tanah tinggi kembali.

Selama ini, katanya, masyarakat menggunakan pupuk kimia. Namun, hasilnya tak terlalu signifikan. Karena itu, Umri menawarkan alternatif dengan pupuk kompos. Dimana, dalam 30 hari bisa panen kompos lalu diberikan ke lahan peoduktif yang membutuhkan.

Di samping itu, bersamaan kegiatan tersebut juga ada pemeriksaan kesehatan gratis yang melibatkan mahasiswa Prodi Keperawatan Umri. Di sana dilakukan pemeriksaan tensi, cek gula darah, asam urat, glukosa, buta warna, berat badan dan sebagainya.

Selain Kuala Kampar, kegiatan serupa juga digelar di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Di sana ada pelatihan penanaman obat herbal dan penanaman Toga. “Di wilayah ini, lahan sangat luas. Kebanyakan ditanam dengan tanaman sawit. Sementara tanaman obat bisa ditanam disela pohon kelapa sawit. Seperti cipukan, mint, lidah buaya, dan sirih,” ujar Hasmalina.

Di sana sekaligus dibawa bidang untuk pemeriksaan ibu hamil. Pemeriksaan ini melibatkan bidan dan Aulia Hospital. Pemeriksaan kehamilan ini juga berdasarkan permintaan masyarakat setempat.

Hasmalina menyebut, masyarakat sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Mereka juga meminta tim dosen dan mahasiswa datang kembali untuk memeriksa kompos yang telah mereka olah. Tujuannya untuk memastikan kompos yang dihasilkan itu apakah sudah layak panen atau belum.

Dijelaskan Hasmalina, dua kegiatan ini dapat dilaksanakan atas kerjasama Prodi Kimia dengan University Relationship CPI. Orang yang terlibat ada 7 dosen, 10 mahasiswa dan 4 alumni. “Alumni ini dilibatkan karena kegiatan adalah implementasi dari studi akhir mereka,” katanya. Termasuk implementasi penelitian yang diolah oleh para dosen.

Menurutnya kerjasama yang telah berlangsung sejak 2013 ini dilakukan untuk peningkatan akreditasi Prodi. “Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas, prodi, dosen dan mahasiswa,” ungkapnya.

Di samping itu, program pengabdian masyarakat itu juga merupakan implementasi dari tri darma perguruan tinggi. Sementara itu, bagi mahasiswa yang terlibat, kegiatan ini juga jadi pengalaman mereka berinteraksi dengan masyarakat.

“Lewat program ini mereka bisa belajar menangani apa yang telah diserahkan tanggungjawabnya pada mereka. Misalnya saat mereka diberi tugas melatih membuat lobang biofori. Segala pengalaman ini sangat diperlukan. Apalagi mahasiswa juga akan melakukan Kukerta yang terjun langsung ke masyarakat,” tutur Hasmalina. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *