Di Depan Mahasiswa UIR, Ketua MPR Tegaskan Pancasila Bukan Pemecah Bangsa

Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhas) berbicara di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau (UIR), Senin (24/2/2020). Dalam acara itu, ia mengurai soal kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan ideologi negara.

Sebelumnya, Zulhas tiba di Kampus UIR bersama Gubernur Riau Drs H Syamsuar. Tampak ikut pula Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir, Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, Danrem 031/WB serta sejumlah anggota DPRD Riau dari Partai Amanah Nasional.

Atraksi pencak silat menyambut Zulhas. Kemudian, Wakil Rektor II UIR Dr Asrol bersama Dekan Fakultas Ekonomi Drs Abrar, Kepala BAAK Ir Akmar Efendi dan belasan dosen UIR membawa rombongan masuk ke auditorium lantai IV Gedung Rektorat untuk menjadi pembicara dalam ‘Seminar Nasional dan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Bang Zulhas Bicara Pancasila untuk Indonesia’.

Kepada mahasiswa, Zulhas menegaskan bahwa Pancasila merupakan pemersatu bangsa, dan sudah menjadi kesepakatan bangsa Indonesia melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang bersidang pada 18 Agustus 1945.

Dalam sidang yang diketuai Ir Soekarno itu, para pendiri bangsa telah sepakat menempatkan Pancasila menjadi falsafah bangsa dan ideologi negara (way of life).

”Pancasila bukan pemecah bangsa, bukan membuat bangsa ini terkotak-kotak. Jadi jangan pertentangkan Pancasila dengan agama,” kata Zulhas.

Ia juga menyinggung soal piagam Jakarta yang dirumuskan BPUPKI. Dalam sidangnya pada tanggal 22 Juni 1945, BPUPKI telah bersepakat menempatkan Piagam Jakarta dengan bunyi ‘kewajiban menjalankan syariat Islam bagi peeluk-pemuluknya’, sebagai dasar negara. Akan tetapi pada malam setelah proklamasi dibacakan oleh Proklamator Soekarno-Hatta datang protes dari Indonesia Timur.

Protes itu disampaikan kepada Bung Hatta selaku anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). ”Di sinilah diuji kebesaran umat Islam. Tapi walau demikian mereka akhirnya sepakat mencoret kalimat dalam Piagam Jakarta, dan mengubahnya menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’.

”Kata tokoh-tokoh Islam waktu itu, silakan diubah asal kita merdeka dan tetap bersatu,” tegas Zulhas.

Karena itu Zulhas mengajak mahasiswa tidak mempertentangkan hari lahir Pancasila. Apakah tanggal 1 Juni, 22 Juni atau 18 Agustus. Menurut Zulhas, ketiga tanggal tersebut merupakan satu rangkaian yang saling mengikat dan menjadi filosofi bangsa. Mari terus kita jalankan dan kita amalkan nilai-nilai Pancasila untuk menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI. (rls)

 

Foto: Humas UIR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *