Jangan Hanya Kejar Jam Mengajar, Guru Juga Diminta Perhatikan Perilaku Siswa

Dinas Pendidikan Provinsi Riau menggelar Bimbingan Teknis penyelenggaraan pendidikan keluarga tingkat provinsi tahun 2019, Kamis (28/11/2019). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu digelar di Evo Hotel Pekanbaru.

Ketua panitia, OK Muhammad Sonny menjelaskan, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang berperan penting mewujudkan perkembangan anak. Selain itu faktor lingkungan dan masyarakat berperan dalam pendidikan anak.

Di era kemajuan dibutuhkan kemitraan pendidikan, masyarakat dan keluarga dalam mendukung pertumbuhan anak dengan maksimal. Agar mencapai itu, Disdik melakukan Bimtek yang dihadiri 27 orang pengawas dan kepala kantor dan staf cabang Disdik di kabupaten/kota.

Tujuannya, mensosialisasikan program Dirjen pendididkan anak usia dini dan memberi pembekalan dan evaluasi pendidikan keluarga dalam tingkat satuan pendidikan. Sehingga terselenggara program pendidikan keluarga yang efektif, akuntabel dan lain-lain.

Sementara itu, Sekretaris Disdik Riau, Ahyu Suhendra menjelaskan peran keluarga sangat penting. Karena dalam keluargalah dibentuk nilai-nilai dasar dalam kehidupan pada anak. Baik yang bersumber dari norma, adat dan sebagainya. “Hal itu dilakukan untuk membina akhlak sang anak,” katanya.

Apalagi anak ini rentan meniru. Mereka suka meniru apa yang dilakukan bapak dan ibunya. Apa yang dilakukan orangtua, anak akan meniru. Karena itu, keluarga harus paham bagaimana memberi pendidikan pada anaknya.

Karena itu, lembaga pendidikan perlu membuka komunikasi dengan orangtua. Hal itu perlu dilakukan agar pendidikan keluarga yang baik dapat diterapkan orangtua pada anak-anaknya.

Pengawas sekolah misalnya, bisa melihat kebijakan dari kementerian terkait indikator sekolah untuk membuka komunikasi dengan keluarga yang memberikan pendidikan moral dan akhlak. Sementara, hasil dari pelaksanaannya bisa dilihat di lingkungan sekolah.

Guru dan pihak sekolah dapat melihat perilaku si anak. Jika ada yang tak menunjukkan perilaku yang baik, maka guru perlu menjalin komunikasi dengan keluarga. Kemudian memberi pemahaman yang baik tentang pendidikan keluarga.

Di sini dibutuhkan keaktifan guru. “Guru jangan hanya mengejar jam mengajar untuk sertifikasi. Tapi harus melihat kenapa ada anak yang misalnya tidur waktu jam belajar. Seiring dengan itu, keluarga juga berperan mendidik anaknya,” kata Ahyu.

Dia menegaskan, tiap guru, pengawas dan sekolah harus menganggap seluruh siswa seperti anak-anaknya sendiri. Karena mereka inilah yang akan menjadi generasi penerus bangsa yang diharap berdaya saing dan unggul.

Tapi kalau ada anak Riau yang tak berdaya saing dan unggul, maka lembaga pendidikan ikut bertanggungjawab. Untuk itu, perlu berkomitmen menjaga perkembangan anak-anak di sekolah.

Sementara itu, Fasilitator dari Kemendikbud Dona Feri Herlambang menjelaskan bahwa penekanan materi Bimtek ini adalah bagaimana kantor Disdik di masing-masing kabupaten/kota mendukung apa yang telah digagas dipertemuan sebelumnya. Sehingga rencana kerja yang disepakati hasilnya lebih massif lagi.

Tujuan dari pemerintah adalah menyampaikan bahwa pendidikan pada anak bukan hanya jadi tanggungjawab pemerintah dan sekolah. Tapi juga setiap keluarga.

“Diharapkan dengan adanya program ini, ketika ada masalah yang menyangkut anak di sekolah, orangtua bisa melihat dari berbagai sisi. Jangan langsung menganggap guru yang salah. Tapi mesti mengetahui apa penyebabnya,” tuturnya. Dona menilai, tidak mungkin guru melakukan kekerasan pada anak dengan sengaja.

Pengalaman yang jadi kendala ketika sekolah mengundang orangtua dianggap langsung minta sumbangan. Padahal undangan itu lebih bagaimana orangtua mendapat sosialisasi yang benar tentang kondisi anaknya di sekolah.

“Jangan hanya orangtua datang ketika anak ada masalah atau ketika ada perlu saja. Orangtua proaktif bertanya tentang perkembangan anaknya,” tutur Dona. (Ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *