Waspada Karhutla! Banyaknya Kanal Bisa Merusak Struktur Kubah Gambut

Peserta dan pemateri kegiatan forum diskusi ilmiah bulanan “PSB Peat Circle” di Universitas Riau berfoto bersama. (Sumber: Humas Unri)

Lahan gambut tidak hanya terdapat dalam wilayah Provinsi Riau yang berada di daratan Pulau Sumatera, melainkan juga di beberapa pulau yang menjadi bagian dari wilayah kepulauan. Seperti Pulau Bengkalis, Pulau Padang, Pulau Tebing Tinggi, dan Pulau Rangsang.

Mengingat ukuran pulau-pulau tersebut lebih kecil dibanding wilayah Riau yang ada di Pulau Sumatera, maka hamparan lahan gambut yang ada pulau tersebut dengan sendirinya juga berukuran jauh lebih kecil. Hal ini diduga menjadikannya lebih rapuh (fragile) terhadap berbagai bentuk gangguan, terutama gangguan hidrologis.

Dr Besri Nasrul Peneliti Pusat Studi Bencana (PSB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau (LPPM Unri) telah mengkaji kaitan antara kapasitas lahan gambut pulau menyimpan air dan tingkat kerawanan kekeringan yang berimplikasi peningkatan kerawanan kebakaran.

Berbasis hasil penelitiannya di Pulau Tebing Tinggi, Besri mengungkapkan bagaimana aktifitas manusia dalam 20 tahun terakhir telah menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap kapasitas lahan gambut pulau ini dalam menyimpan air.

Dalam forum diskusi ilmiah bulanan “PSB Peat Circle” yang ditaja pada kemarin, Besri menyampaikan adanya indikasi potensi kebencanaan yang cukup mencengangkan. Menurut kajiannya, lahan gambut Pulau Tebing Tinggi dapat dibagi menjadi lima sub-KHG (Kesatuan Hidrologi Gambut), yang masing-masing setidaknya memiliki satu kubah gambut. Yaitu permukaan lahan yang memiliki lapisan gambut paling tebal.

Mengutip data KLHK (2015), Besri, mengemukakan luas lahan gambut di pulau ini mencapai kurang lebih 123.900 ha atau sekitar 90,5 persen dari luas daratannya. Sebanyak 65 persen dari lahan gambut ini merupakan lahan gambut dalam yang memiliki ketebalan gambut 3-11 meter.

Sebagaimana diketahui, gambut memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air hingga ratusan persen dari volumenya sendiri. Oleh karenanya, lahan gambut yang terdapat di pulau ini, meskipun berukuran tidak seberapa luas, merupakan infrastruktur alamiah yang memainkan peranan sangat penting dalam menjaga neraca air setempat.

“Sayang sekali keseimbangan neraca ini sekarang sudah sangat terganggu. Banyaknya kanal yang dibangun membelah sub-KHG yang memiliki lapisan gambut tebal telah merusak struktur kubah-kubah gambut yang ada,” jelas peneliti yang baru saja merampungkan studi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjelaskan.

Hal ini mengakibatkan kapasitas kubah-kubah gambut dalam menyerap dan menyimpan air menyusut drastis. Besri, menjelaskan dalam kondisi alaminya, kubah-kubah gambut yang dapat menyerap dan menyimpan air hujan sehingga bisa tetap menjaga kebasahan gambut selama 2,79-2,85 bulan setelah musim hujan selesai, sehingga gambut tidak pernah kering.

Sebaliknya, dalam kondisi eksisting saat ini kemampuan ini memendek hingga hanya 1,82-1,88 bulan saja. Dalam keadaan seperti itu, peneliti ini memperingatkan apabila El Nino melanda Pulau Tebing Tinggi, maka tingkat kerawanan kebakaran akan melonjak dengan cepat. Karena gambut dengan cepat mengering.

Hal yang lebih mengkhawatirkan, apabila terjadi kebakaran lahan gambut, maka akan sulit dilakukan pemadaman. Karena tidak akan tersedia cukup air untuk memadamkan api.

Sumber masalah dari kerusakan kubah gambut tak lain adalah pembangunan kanal-kanal yang membuang sebagian besar air yang terserap kubah-kubah gambut selama musim hujan. Hal ini membuat kawasan kubah-kubah gambut justru yang seharusnya merupakan tandon air berubah menjadi bagian-bagian yang paling kering di Pulau Tebing Tinggi ketika musim kemarau.

Oleh karenanya, Besri menegaskan perlunya diambil langkah-langkah strategis untuk mencegah kehancuran lahan gambut di Pulau Tebing Tinggi yang dampaknya pasti sangat merugikan manusia.

Ia menjelaskan, langkah strategis pertama adalah dengan memperluas hamparan lahan yang menjadi kawasan lindung gambut. Jangan hanya melindungi bagian puncak kubah gambut saja, melainkan juga bagian lereng dan kaki kubahnya.

Apabila ini ditempuh, maka kelima sub-KHG di pulau ini ditaksir akan dapat menyimpan air untuk menghadapi kekeringan hingga 10-13 bulan.

“Langkah strategis kedua adalah melakukan penyekatan semua kanal yang ada dalam kawasan lindung gambut yang diperluas tersebut secara sistematis pada titik-titik yang tepat, agar laju pembuangan air dari kubah gambut dapat ditekan hingga serendah mungkin,” kata dia. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *