Mengenal SATASIMA, Alat Mengatasi Penurunan Sensitivitas Tangan Karya Dosen Unri

Dosen dan mahasiswa Universitas Riau menunjukkan SATASIMA (Sarung Tangan Refleksi Manual) yang merupakan inovasi baru dalam upaya mengatasi penurunan sensitivitas tangan.

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Prevalensi kasus DM di dunia meningkat setiap tahun. Indonesia menduduki peringkat ke-6 tertinggi prevalensi di dunia.

“Seiring meningkatnya prevalensi DM akan meningkatkan komplikasi DM seperti terjadinya komplikasi mikrovaskuler, yaitu diantaranya adalah neuropati diabetik,” ungkap Dosen Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Riau (Unri) Yesi Hasneli N SKp MNS, Senin (28/10/2019).

Di Indonesia, neuropati berada pada urutan ke tiga tertinggi akibat komplikasi DM. Jika tidak ditangani secara cepat maka dapat terjadi infeksi yang menyebar ke tulang sehingga harus diamputasi.

“Komplikasi DM dapat dicegah dengan pengendalian DM yang baik. Salah satu upaya nya adalah dengan melakukan pijat refleksi. Pijat refleksi yang dilakukan pada telapak tangan dan kaki pasien DM terutama di area organ yang bermasalah, akan memberikan rangsangan pada titik-titik saraf yang berhubungan dengan pankreas. Sehingga menjadi aktif sehingga menghasilkan insulin melalui titik-titik saraf yang berada di telapak kaki maupun tangan,” jelas Yesi.

Lebih lanjut, Yesi, menyampaikan banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan sensitivitas kaki pada pasien DM. Namun, ternyata masih sedikit upaya untuk pencegahan akibat menurunnya sensitivitas tangan pada pasien DM.

Oleh karena itu diciptakan inovasi baru dalam upaya mengatasi penurunan sensitivitas tangan yaitu SATASIMA (Sarung Tangan Refleksi Manual).

“Alat SATASIMA terdiri dari sepasang sarung tangan tebal untuk lapisan luar dan sepasang sarung tangan tipis untuk lapisan dalam. Pemilihan sarung tangan yang tebal berguna untuk menghangatkan tangan yang nantinya akan menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga aliran darah mencapai perifer dan menimbulkan rasa nyaman pada penderita diabetes yang mengalami neuropati seperti rasa dingin di tangan,” jelas Yesi.

Lebih lanjut, kata Yesi, selain sarung tangan, alat ini menggunakan 12 kelereng ukuran sedang sebagai media akupresur ditelapak tangan dengan cara menekan dan menggeser kelereng dengan jari lain di setiap jari.

Penempatan kelereng tersebut ialah di seluruh jari tangan dan di bagian tengah telapak tangan tepat di titik pankreas. Kelereng ditempatkan antara sarung tangan tipis dan sarung tangan tebal. Tujuannya agar kelereng berada pada posisi yang tepat di setiap jari,

“Sarung tangan tipis dipakai terlebih dahulu lalu pasang sarung tangan tebal, setelah itu masukkan kelereng disetiap jari dan 1 kelereng di telapak tangan (titik pankreas),” jelasnya.

Berbagai manfaat dari alat terapi refleksi tangan manual penderita DM dengan berbahan dasar sarung tangan dan kelereng berukuran sedang ini merupakan hasil dari kajian penelitian.

Penjelasan terkait alat ini juga telah dilakukan di berbagai kegiatan. Di antaranya melalui judul materi Effect of SATASIMA and Diabetic Neurophaty Analysis Using Experimental Method Learning yang diadakan oleh The Association of Indonesian Nurse Education Center (AINEC) Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) di El-Royale Hotel Bandung, tanggal 10-12 Oktober 2019 lalu.

Pada kegiatan itu, Yesi juga memperoleh penghargaan The Best Oral Presentation at International Conference AINEC Research Award 2019 oleh AINEC AWARD RESEARCH 2019.

“Penelitian tentang produk ini juga kita sosialisasikan kepada masyarakat di wilayah Puskesmas Rejosari Pekanbaru. Invensi ini termasuk dalam bidang teknologi kesehatan terutama teknologi keperawatan, yang berfungsi untuk membantu penderita diabetes melitus (kencing manis) dalam melancarkan sirkulasi darah ke perifer (tangan dan jari), merangsang dan meningkatkan sensitivitas tangan akibat komplikasi mikrovaskuler yaitu neurophaty yang dialami penderita diabetes melitus,” tutupnya. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *