395 Lulusan Umri Diwisuda, Rektor Tekankan Pentingnya Jiwa Wirausaha

Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, Prof Lincolin Arsyad bersama Rektor Umri, DR Mubarak MSi dan undangan berfoto bersama pemuncak wisuda sarjana, Sabtu (26/10/2019).

Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) kembali menggelar wisuda untuk program diploma dan sarjana, Sabtu (26/10/2019) kemarin .

Turut hadir dalam wisuda itu, Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, Prof Lincolin Arsyad dan Badan Pembina Harian Umri, Prof Isjoni. Kemudian hadir juga Amran Hasan Wakil Ketua PW Muhammadiyah.

Fakultas Teknik 61 orang, FMIPA dan Kesehatan 52 orang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 121 orang, Fakultas Ilmu Komputer 52 orang, Ilmu Komunikasi 71 orang, FKIP 10 orang dan Ilmu Hukum 28 orang. Total asa 395 orang yang diwisuda.

Rektor Umri, DR Mubarak M.Si menjelaskan, para wisudawan kebanyakan angkatan 2015. Saat itu, jumlah mahasiswa yang masuk memang cukup banyak. Diyakini, dalam wisuda berikutnya jumlah wisudawan terus meningkat seiring bertambahnya mahasiswa di Umri. Para mahasiswa juga didorong bisa menuntaskan studinya maksimal 4,5 tahun.

“Penambahan jumlah wisudawan itu juga dianggapnya sebagai bentuk meningkatkan kepercayaan masyarakat pada Umri,” kata dia.

Rektor juga menekankan pentingnya jiwa wirausaha pada mahasiswa dan lulusan Umri. Karena itulah, pihak kampus sebenarnya telah memiliki mata kuliah kewirausahaan untuk mendorong mahasiswa menjadi pelaku usaha.

Di samping itu, juga ada program Umri Entrepreneurship Award yang telah berlangsung 5 tahun. Kedepannya, untuk pemenang award ini akan diberikan dana bantuan. Sehingga mengembangkan usahanya.

Di samping itu, di Umri juga telah tersedia kios untuk mahasiswa yang ingin terjun berwirausaha. Kedepannya, Umri juga ingin mengembangkan socioentrepreneurship. Yaitu bagaimana mengembangkan usaha yang juga berkontribusi untuk kebaikan masyarakat.

Sementara itu, dalam pemaparannya, Lincolin Arsyad menekankan pentingnya lulusan perguruan tinggi memiliki jiwa wirausaha. Tidak harus menjadi entrepreneur. Tapi setidaknya mampu bekerja sendiri.

Untuk itu perlu diperhatikan kurikulumnya. Lalu bagaimana mata ajarnya, praktikum dan sebagainya. Bagaimana mereka bisa mampu memiliki semangat berwirausaha.

Untuk menentukan kurikulum yang mendorong mahasiswa berwirausaha, tentu dibutuhkan dosen yang mampu dan paham di bidang itu. Sehingga mereka mampu memotivasi mahasiswa untuk berwirausaha.

“Jadi kalau pengen output yang siap pakai, mampu jadi pengusaha, maka inputnya harus disesuaikan,” kata dia. Lincolin menjelaskan, di Indonesia kesempatan berwirausaha tinggi. Hanya saja kurang ada stimulasinya.

Untuk itulah perlu diundang orang-orang yang sudah sukses jadi pengusaha seperti Nadiem Makarim atau Sandiaga Uno. Bisa juga belajar dari alumni yang telah terjun menjadi pelaku usaha. “Menyusun kurikulum itupun harus mengundang banyak pihak. Terutama mengundang praktisi bisnis,” kata dia.

Lincolin juga meminta Umri memperkuat sumber daya manusianya. Misalnya, jumlah profesor dan doktor harus ditambah di tiap prodi. Selanjutnya, perlu ditingkatkan sarana dan prasarana. Tanpa SDM yang baik, akan percuma sarana dan prasarana yang baik.

Sejauh ini dari sekitar 15.500 dosen, sekitar 11 persen sudah bergelar doktor. Diharapkan, tahun 2020, sudah mencapai 15 persen. Peningkatannya tahun ini cukup besar. Bisa mencapai 100 doktor setahun.

Sementara itu, Prof Isjoni juga menjelaskan bahwa BPH akan menyusun materi perkuliahan soal Kemuhammadiyahan. Dimana, mereka akan melakukan delapan kali perkuliahan di kelas dan delapan pertemuan lagi di lapangan.

Dengan pola ini, mahasiswa diperbolehkan menyebarkan proposal dan mengumpulkan dana untuk membantu program-program mahasiswa. Termasuk bisa dipakai untuk membantu program kewirausahaan. (ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *