Elemen di Perguruan Tinggi Jangan Hanya Sibuk Urus Diri Sendiri

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Riau (Unri) Prof Dr M Nur Mustafa MPd, menyampaikan Pendidikan atau edukasi jelas menjadi karakter utama lembaga pendidikan.

Penelitian atau riset itulah yang membedakannya dengan level pendidikan di bawahnya.

Pada perguruan tinggi, penelitian haruslah mampu dilakukan bahkan membudaya bagi segenap elemen dalam perguruan tinggi tersebut.

Tidak hanya sekadar proses belajar dan mengajar tetapi juga dilakukan kegiatan inovasi. Yaitu, menemukan hal-hal baru baik di bidang teknologi, sains, maupun sosial.

“Dengan karakter ini segenap elemen di perguruan tinggi tidak boleh disibukkan dengan mengurus dirinya sendiri. Tetapi, juga harus ada sikap peduli terhadap kondisi dan realitas masyarakat,” kata dia, Kamis (21/8/2019).

Keberhasilan kampus tidak hanya dilihat dari ilmu dan teknologi yang berkembang dengan pesatnya di
dalam kampus. Akan tetapi juga dilihat sejauh apa teknologi dan sains itu bisa diaplikasikan ke masyarakat.

“Masyarakat harus merasakan manfaatnya sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat itu sendiri,” jelas Prof Dr M Nur Mustafa MPd, Kamis (22/08/2019) di Kampus Bina Widya Unri.

Tridarma Perguruan Tinggi ketiga yang menjadi ciri khas dari pendidikan tinggi di Indonesia ini telah menjadi kekaguman. Ini tentunya menjadi kelebihan tersendiri bagi pendidikan tinggi di Indonesia.

Harapannya kelebihan yang dimiliki ini benar-benar bisa dioptimalkan keberadaannya yang kemudian
membuat Indonesia menjadi centre of excellent dalam hal community development pada kalangan
perguruan tinggi dunia.

Melihat pentingnya hasil riset terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat, dosen perlu melakukan beberapa langkah dalam mengkonversi hasil riset agar tepat sasaran.

Pertama, konversi dilakukan
dengan membuat peta jalan (roadmap) penelitian dan pengabdian masyarakat yang jelas dan konsistensi dalam menjalani peta jalan tersebut. “Pengabdian pada masyarakat harus berbasis hasil penelitian,” kata dia.

Kedua, perlu sinergi atau kerja sama antarberbagai kelompok penelitian sehingga kegiatan pengabdian pada masyarakat dapat dilakukan secara multidisipliner.

Hal ini karena permasalahan yang ada di masyarakat jarang sekali yang bersifat monodisiplin. Ketiga, peneliti dan para pemangku kepentingan lainnya di masyarakat perlu duduk bersama untuk membahas tindak lanjut dari hasil-hasil penelitian. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh hasilnya.

Dari uraian tersebut, dapat dinyatakan pengabdian kepada masyarakat perlu arah yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf pembangunan dan ekonomi masyarakat, dimana Unri melalui LPPM sudah memiliki beberapa desa binaan yang telah berjalan yang dapat membantu perekonomian masyarakat.

Sejalan dengan penjabaran oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Unri tersebut pada Rabu 21 Agustus 2019 kemarin,

Unri menyelenggarakan Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2019 pada 21 Agustus kemarin.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unri dengan tajuk “Dampak Nyata Pengabdian Perguruan Tinggi dalam Membangun Negeri”.

Seminar ini merupakan persentasi hasil-hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang nantinya bisa diimplementasikan kepada masyarakat yang juga dipakai oleh stakeholder dan mitra perguruan tinggi agar dapat meningkatkan pembangunan di Indonesia dan kesejahteraan masyarakat.

Pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat menjadi istilah yang senantiasa digaungkan setiap perguruan tinggi di Indonesia. Tiga kata tersebut termaktub sebagai Darma Perguruan Tinggi Indonesia, yaitu “Tridarma Perguruan Tinggi”.

Ungkapan itu disampaikan Dr Roza Elvyra MSi selaku Ketua Pelaksana Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2019.

Lebih lanjut, dengan Tridarma Perguruan Tinggi, kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi dasar pergerakan bagi perguruan tinggi untuk melakukan aktifitasnya.

Dengan kata lain kegiatan yang dilakukan di perguruan tinggi tersebut tidak jauh dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan penerapan hilirisasi hasil riset perguruan tinggi pada mitra, yaitu masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat turut serta menyelesaikan permasalahan serta memenuhi kebutuhan masyarakat.

Karena itu kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan
kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membangun negeri.

Lebih lanjut, yang menjadi latar belakang kegiatan seminar ini adalah agar akademisi yang melakukan pengabdian kepada masyarakat dapat mempublikasikan kegiatannya.

“Bagi para stakeholder tentunya
publikasi pengabdian perguruan tinggi menjadi pembelajaran tentang apa yang terjadi di lapangan. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan karya intelektual akademisi, tentunya dapat memberi dampak nyata dalam memberdayakan masyarakat,” ungkap Roza.

Seminar nasional ini, di ikuti oleh 120 orang peserta dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Selain pemakalah, juga turut hadir pemateri dari beberapa institusi.

Seminar dibagi menjadi dua sesi, yaitu seminar dan sesi kedua Focus Group Discussion (FGD) dengan sub tema ekonomi dan sosial budaya, kesehatan, komunikasi, lingkungan hidup, teknologi tepat guna tepat guna, dan pendidikan.

Sementara yang menjadi pembicara utama pada seminar itu, adalah Ir Conrad Hendarto MSc Staf Ahli Pengembangan Wilayah Kementerian Desa.

Kemudian, Prof Dr Ocky Karna Radjasa MSc Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, dan Prof Dr Almasdi Syahza SE MP Ketua Forum Kuliah Kerja Nyata badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Wilayah Barat. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *