Rayakan Milad ke-11, Umri Dianggap Tunjukkan Cikal Bakal Universitas Besar

Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) merayakan milad ke-11, Jumat (28/6/2019). Perayaan milad atau hari jadi itu ditandai dengan pelaksanaan sidang senat terbuka di gedung utama Achmad Dahlan Pekanbaru.

Dalam laporan tahunannya, Rektor Umri, DR Mubarak MSi menjelaskan bahwa milad Umri sebenarnya jatuh pada tanggal 5 Juni. Tapi karena tahun ini bertepatan dengan perayaan Idulfitri, maka perayaan diundur jadi tanggal 28 Juni.

“Kita berdoa supaya Umri terus bersinar agar mampu memberi peran dalam kemajuan pada dunia pendidikan dalam rangka rahmatan lil alamin,” ungkap Rektor.

Dijelaskan dia, 10 tahun pertama adalah masa kritis dalam pertumbuhan lembaga seperti Umri. Saat ini Umri sudah melewatinya dengan sangat sukses. Hal itu terbukti dengan semakin banyaknya pembangunan. Hal itu tak terlepas dari peran pemerintah dan semua komponen persyarikatan Muhammadiyah.

“Tapi yang paling terlihat adalah keiklahsan dari semua dosen dan pegawai. Dimana semua sepaham untuk menjadikan Umri sebagai universitas yang maju dan bermarwah,” kata dia.

Dalam dekade kedua ini, Umri memasuki persaingan global di era revolusi indusutri 4.0. Untuk itu, perlu ditingkatkan manajemen universitas yang baik. Termasuk membangun karakter yang berbasis ajaran Islam. Yaitu, insan muslim yang mampu berbuat baik bagi sesama, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan global.

Dalam rangka mewujudkan keunggulan bangsa, Umri memandang pentingnya pembangunan karakter. Sepeti kepercayaan, ketulusan, keberanian, kejujuran, dan kuat memegang prinsip.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah PW Muhammadiyah Riau, Prof DR M Nazir MA melihat perkembangan Umri sudah berjalan baik. Meski dibalik semua itu, tetap ada masalah yang dialami. “Tapi kami melihat masalah itu merupakan wajar dalam setiap instansi,” ungkapnya.

M Nazir juga sempat menjelaskan bagaimana cikal bakal berdirinya Umri yang berawal dari dorongan Amien Rais agar Riau memiliki perguruan tinggi. Dari pertemuan itu, PW Muhammadiyah Riau akhirnya mendirikan ATOM. Selanjutnya, berdiri pula Akademi Keperawatan dan Akademi Keuangan Perbankan Riau (AKPR).

Tiga akademi inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Umri. Sejak 2008 hingga sekarang, dia melihat Umri terus berkembang. Namun performa universitas tergantung pada mahasiswa-mahasiswanya.

“Tujuannya yaitu, bagaimana menghasilkan sarjana muslim yang ibadahnya kokoh, ilmu dan wawasannya dalam serta luas, memiliki etos tinggi serta peka pada lingkungan sosial dan alam. Termasuk memiliki fisik jasmani yang segar dan bugar dalam rangka mencapai ridho Allah,” ungkapnya.

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr dr Agus Taufiqurrahman M.Kes Sp.S menilai 11 tahun memang bukan waktu yang panjang untuk semuah kampus. Tapi dalam waktu itu, sudah terlihat bahwa Umri sudah menjadi cikal bakal kampus yang besar.

“Tugas Rektor selaku pemegang amanah adalah bagaimana melakukan manajemen yang baik kemudian mewariskannya pada penerus,” kata dia. Artinya, seorang pemimpin harus memutuskan dengan bijak.

Jika membuat kebijakan, maka yang mempengaruhi bukan hanya nalar, tapi juga kebijaksanaan dan pengetahuan. Hal itu menurut Agus, sesuai dengan doa nabi Ibrahim.

Belajar dari kampus-kampus terdahulu, amal usaha Muhammadiyah bisa berkembang dengan baik karena para pendahulu merintis amal usaha dengan kesungguhan. Karena janji Allah, mereka yang sungguh-sungguh akan diberikan solusi atas semua masalah yang dihadapi.

“Yang sungguh-sungguh pun kadang belum berakhir. Apalagi yang tidak sungguh-sungguh,” kata dia.

Setelah kesungguhan, pendahulu juga mengelola amal usaha dengan prinsip kebersamaan. Artinya, yang dibutuhkan yaitu super team bukan superman. Jamaah Muhammadiyah itulah yang akan saling melengkapi. Jika ada masalah, harus selalu dibicarakan bersama.

Ketiga, amal usaha dilakukan dengan keikhlasan. Keikhlasan itu hanya diketahui oleh masing-masing pribadi dan Allah.

Di Muhammadiyah, tambahnya, ukuran amal usaha maju dan baik yaitu jika sudah mampu berperan sebagai media dakwah yang baik. Jika dakwah Muhammadiyah berjalan dengan baik, maka persyarikatanpun berkembang.

Amal usaha juga dianggap baik jika secara institusi dianggap bagus. Misalnya, secara akreditasi harus terus ditingkatkan. Hal ini terlihat dengan beberapa kampus Muhammadiyah sudah berakreditasi A. Bahkan akreditasi A-nya lebih baik dari perguruan tinggi negeri.

Selain itu, masyarakat juga menilai bagaimana kiprah alumni universitas Muhammadiyah. Dimana, alumni harus unggul moral dan spiritual, intelektual serta peran sosial.

Spiritual lebih didahulukan karena negeri ini tidak kurang orang pintar. Negeri ini membutuhkan orang yang memiliki moral dan spiritual yang baik. Karena, meski pintar tapi moralnya tak baik, mungkin saja yang bersangkutan tidak jujur.

Kegiatan ini kemudian diakhiri dengan penandatangan kerjasama antara Umri, Pemko Pekanbaru, UIN Sultan Syarif Kasim PT PER serta PT Gojek Indonesia. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *