13 Nyawa Melayang per Menit Akibat Polusi Udara

Ilustrasi (Sumber: lingkunganhidup.co)

Sembilan dari 10 orang di bumi saat ini menghirup udara tercemar. Bahkan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa tak seorangpun di bumi bisa lolos dari polusi udara. Polusi udara dianggap sebgai krisis kesehatan global yang mesti disikapi bersama.

Hal itu disampaikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam memperingati Hari Lingkungan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni.

Berdasarkan data lapangan, setiap tahun ada sekitar tujuh juta orang meninggal karena kondisi udara buruk. Kontributor utama dari polusi yaitu pembakaran bahan bakar fosil untuk menghasilkan tenaga listrik, menjalankan alat transportasi, dan industri. Aktivitas itu juga sumber utama emisi karbon penyebab naiknya suhu di planet ini.

Sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Kamis (6/6/2019), sejumlah pihak sepakat, dengan mengatasi permasalahan secara bersama-sama maka akan membawa manfaat substansial bagi kesehatan publik.

Berikut ini beberapa fakta terhadap dampak polusi udara pada manusia akibat polusi udara dan kaitannya dengan perubahan iklim:

# Polusi udara merenggut 800 jiwa setiap jam atau 13 jiwa setiap menit, dimana angka ini tiga kali lebih besar dibandingkan jumlah orang yang menjadi korban penyakit malaria, TBC, dan AIDS secara bersama-sama setiap tahun.

# Beberapa pencemar udara bekontribusi baik terhadap perubahan iklim maupun polusi udara di tingkat lokal termasuk karbon hitam yang dihasilkan oleh sistem pembakaran yang tidak efisien dari sumber-sumber seperti kompor dan mesin diesel, serta methane.

# Lima sumber utama dari polusi udara adalah pembakaran bahan bakar fosil di dalam ruang, pembakaran kayu dan biomasa lain untuk memasak, menghangatkan ruang, dan menerangi rumah; industri, termasuk penghasil tenaga listrik seperti pembangkit listrik tenaga batubara dan generator diesel; alat transportasi, khususnya kendaraan dengan mesin diesel.

# Selain itu juga pertanian dan peternakan yang memproduksi methane dan ammonia, pembakaran limbah pertanian, serta pembakaran limbah terbuka dan limbah organik di tempat-tempat pembuangan sampah.

# Polusi udara dalam rumah tangga menyebabkan terjadinya sekitar 3,8 juta kematian dini setiap tahun, sebagian besar dari tingkat kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang, dan sekitar 60 persen dari kematian itu terjadi di kalangan wanita dan anak-anak.

# 93 persen anak-anak di seluruh dunia hidup di daerah-daerah dimana polusi udara melebihi pedoman WHO, dengan 600.000 anak di bawah usia 15 tahun menghadapi kematian akibat infeksi saluran pernafasan di tahun 2016.

# Polusi udara bertanggung jawab atas 26 persen kematian yang dipicu penyakit jantung iskemik, 24 persen kematian akibat stroke, dan 43 persen akibat penyakit paru-paru obstruktif kronik, dan 29 persen akibat penyakit kanker paru-paru.

# Pada anak-anak, kondisi ini dikaitkan dengan rendahnya bobot tubuh bayi yang baru lahir, asthma, kanker pada anak-anak, obesitas, perkembangan paru-paru yang buruk dan autisme, di antara cacat bawaan sejak lahir lainnya.

# Sekitar 97 persen dari kota dengan penghasilan rendah hingga menengah dengan populasi lebih dari 100.000 orang tidak memenuhi tingkatan kualitas udara minimum yang dipersyaratkan oleh WHO, dan di negara-negara dengan penghasilan tinggi, 29 persen kotanya tidak memenuhi pedoman kualitas WHO.

# Sekitar 25 persen dari polusi udara lingkungan perkotaan disebabkan oleh debu-debu halus akibat lalu-lintas, 20 persen oleh pembakaran dalam rumah tangga dan 15 persen oleh aktivitas industri termasuk aktivitas pembangkit listrik.

# Menjaga temperatur pemanasan global “jauh di bawah” dua derajat Celsius, sebagaimana diikrarkan pemerintah di berbagai negara di bawah Kesepakatan Paris 2015, dapat menyelamatkan sekitar sejuta jiwa setahun menjelang tahun 2050 dengan hanya menekan tingkat polusi udara.

# Di 15 negara yang paling banyak menhgasilkan gas penyebab pemanasan global, biaya dari polusi udara terhadap kesehatan umum diperkirakan lebih dari 4 persen PDB. Sebagai pembanding, menjaga temperatur udara sesuai limit temperatur yang digariskan dalam Kesepakatan Paris hanya membutuhkan investasi sekitar 1 persen dari PDB global. (Kps)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *