Kesehatan Reproduksi Cenderung Diartikan Hubungan Seksual Saja, Padahal…

Ilustrasi (Sumber: depkes.go.id)

Memberikan pemahaman mengenai masalah kesehatan reproduksi pada remaja dianggap penting. Apalagi, di usia remaja, seseorang memiliki rasa ingin tahu yang besar dan cenderung ingin mengeksplorasi dunia.

Seringkali hasrat untuk menjelajahi segala hal ini tidak dibarengi dengan pertimbangan yang matang. Sehingga terkadang tindakan-tindakan yang dilakukan berisiko tinggi baik bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan di sekitarnya.

Apabila tidak diberi perhatian dan dibiarkan tanpa pengawasan, perbuatan berisiko ini dapat memunculkan berbagai masalah. Inilah yang melatarbelakangi Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menggelar bimbingan teknis (bimtek).

Bimtek itu terkait Program Aksi Guru dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi. Kegiatan digelar Selasa (21/5/2019) lalu di Jakarta dan diikuti guru-guru dari sejumlah daerah di Indonesia.

Kepala Subbagian Direktorat Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja, Wara Pratiwi, Kementerian Kesehatan yang menjadi pembicara dalam bimtek tersebut mengatakan, kesehatan reproduksi sering disalahartikan secara sempit. Hanya sebagai hubungan seksual saja.

Kondisi ini membuat banyak orang tua yang merasa tidak pantas untuk dibicarakan dengan remaja. Padahal, kesehatan reproduksi merupakan keadaan fisik, mental, sosial yang sangat penting untuk dimengerti oleh remaja.

“Intinya remaja pada umumnya masih labil dan tidak sepenuhnya memahami konsekuensi atas perbuatannya. Mereka cenderung mudah mengikuti teman dibanding orang tua/guru. Oleh karena itu orang tua, guru dan penyuluh kesehatan remaja perlu paham tentang psikologi remaja,” ujar Wara sebagaimana dilansir dari situs resmi Kemendikbud RI.

Ia juga menegaskan kepada guru-guru yang hadir untuk menjadikan guru sebagai tempat diskusi dan berbagi dengan anak, sehingga remaja tidak mudah dipengaruhi.

Sementara itu Kepala Subbagian Direktorat Program dan Evaluasi, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tina Jupartini, pada saat pembukaan kegiatan menuturkan, peran orang tuapun sangat penting dalam pemahaman kesehatan reproduksi yang benar dan utuh melalui cara-cara yang penuh keakraban dan persahabatan dengan sang anak.

“Guru tinggal menguatkan saja dengan pelbagai perspektif yang menunjang,” kata dia.

Namun lantaran banyak orangtua yang abai melakukan hal itu kepada anaknya, maka sebagai profesi yang melekat dengan keluhuran budi, guru perlu mengambil peran menginjeksi pemahaman yang benar dan utuh tentang kesehatan reproduksi terhadap anak yang ternyata diketahui tidak pernah dibekali pemahaman dari orangtua.

Hal itu sebagai upaya menghindarkan peserta didik dari pemahaman dan perilaku keliru tentang kesehatan reproduksi yang diperoleh lewat sumber-sumber sesat dan menjerumuskan.

“Tentu kondisi itu bukan kondisi ideal bagi guru dengan mengambil peran tambahan yang seharusnya dilakukan oleh orangtua murid yang ada secara fisik tapi disfungsi secara peran,” ungkapnya.

Perlahan tapi pasti ke depan, harus diupayakan dialog dan kerja sama lebih intens antara orangtua dan guru terkait materi dan metode memberi pembekalan yang tepat tentang pendidikan jelang dan pasca-akil baligh kepada seorang anak oleh orangtua di dalam keluarga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *