Guru Bahasa Indonesia Didorong Kuasai Bahasa Asing

Mendikbud, Muhadjir Effendi

Riaucerdas.com – Sebanyak 19.229 guru telah menempuh Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) sejak tahun 2016. Dari hasil uji kemahiran tersebut menunjukkan baru sebanyak enam orang guru memperoleh predikat istimewa. Selebihnya, 24 persen guru berpredikat unggul dan sangat unggul, dan sebagian besar memperoleh predikat madya.

Karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kemahiran guru dalam berbahasa Indonesia.

Menindaklanjuti hal itu, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud menyelenggarakan sosialisasi dan tes UKBI selama sepekan, yaitu dari 10 sampai 15 Mei 2019.

Sebanyak 500 guru dan kepala sekolah di DKI Jakarta turut berpartisipasi pada sosialisasi tersebut.

UKBI merupakan tes kemahiran berbahasa Indonesia standar secara lisan, dan tulis untuk mengukur kemahiran berbahasa. Baik penutur jati, maupun penutur asing.

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dadang Sunendar, menjelaskan data capaian nilai kemahiran memang sudah memenuhi target bagi guru bukan pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia.

“Data tadi itu menunjukkan bahwa tingkat kemampuan bahasa Indonesia bagi guru bukan pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia adalah madya yang memang sudah sesuai dengan capaian yang kita harapkan,” ujarnya lewat siaran pers, Sabtu (11/5/2019).

Terkait hasil capaian nilai UKBI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengungkapkan perolehan nilai unggul sudah mencukupi bagi guru bukan pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia.

Dia mengimbau agar setiap guru dapat memiliki standar minimum madya untuk sertifikat UKBI sehingga dapat mencegah tertularnya minim kompetensi berbahasa Indonesia bagi peserta didik.

“Setiap guru agar dapat memiliki standar minimum madya bagi sertifikat UKBI,” imbau Muhadjir. Sehingga, jangan sampai kurangnya kompetensi bahasa Indonesia yang dimiliki dapat menular kepada peserta didik. Akibatnya, kemampuan peserta didiknya kacau seperti gurunya.

Selain tantangan kemahiran berbahasa Indonesia, penyiapan kemampuan berbahasa asing bagi guru menjadi target jangka panjang, guna mendukung penyiapan sumber daya manusia untuk bersaing di lingkup global.

“Guru bahasa Indonesia pun harus menguasai bahasa asing lain, seperti bahasa Inggris dengan standarnya itu seperti TOEFL”, ujar Menteri Muhadjir.

Kemampuan bahasa asing ini dapat dimulai dengan mengadopsi pelajaran dwi bahasa atau bilingual bagi siswa Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan.

Pelajaran dwi bahasa, dicontohkan Menteri Muhadjir, dapat menyesuaikan dengan bahasa asing berdasarkan kerja sama negara tertentu dengan sekolah.

“Bagi SMK yang sudah memiliki kerja sama dengan negara asing lain. Dia harus disiapkan untuk bisa berbahasa asing tersebut. Misalkan, terdapat SMK yang bekerjasama dengan negara tertentu, maka diharapkan bahasa pengantar kegiatan belajar mengajar pun menggunakan bahasa asing tersebut”, jelasnya.

Langkah ini, menurutnya, sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan (bahasa) bagi tenaga kerja Indonesia untuk jangka panjang.

Menteri Muhadjir menjelaskan, perlu melatih para guru di wilayah yang memiliki konstruksi bahasa daerah yang berpengaruh kepada konstruksi bahasa Indonesia. Hal ini untuk mencegah ketidakteraturan konstruksi bahasa Indonesia.

“Kalau bahasa Indonesia tidak diluruskan betul implementasi sehari-hari, apalagi kondisinya sedang bertumbuh, maka efeknya akan kacau ke depan”, katanya. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *